Malam semakin larut, namun jalanan ku lihat masih begitu meriah. Kurasa suasananya begitu nyaman untuk jalan, sambil menunggu angkutan kota yang lewat ku berjalan sendiri menyusuri trotoar menuju perempatan buah batu.
Mendekati perempatan, suasananya berubah jadi begitu sepi,hawa dingin malam semakin terasa sekarang. Naluriku berkata mesti lebih waspada, karena masih ada saja yang kena jambret disekitar sini. Meski polisi selalu berpatroli setiap malamnya menuju sini namun masih saja komplotan jambret bisa melakukan aksinya,seakan mata mereka ada disetiap sudut daerah ini.
Dan benar saja,belum lama ku berfikir akan aksi jambret itu,sekarang dapat kulihat jelas diujung jalan kecil kawanan geng motor yang sedang berkumpul,tertawa tawa membentuk lingkaran seakan sedang menonton hiburan yang mengasikan. Entah apa yang terjadi sebenarnya, tapi lebih baik ku berjalan agak cepat meninggalkan mereka selagi mereka belum melihat keberadaanku.
Hingga ku berjalan tanpa suara melewati mereka,kudengar ada suara wanita yang tengah menangis. Spontan ku berbalik dan ternyata mereka sedang asik mengerubungi seorang wanita yang begitu ketakutan, hingga mereka tidak menyadari kedatanganku. Bau minuman keras begitu kuat tercium sekarang, seiring ku mendekat, bukannya tidak takut untuk berurusan dengan mereka,namun suara wanita menangis minta tolong seperti itu seakan memberiku kekuatan lebih untuk berani melabrak mereka.
Ku langsung datang, meninju pundak salah satu dari mereka,mungkin karena mabuk seketika seorang langsung rubuh tidak bangkit lagi. Kontan saja semuanya memandang marah ke arahku.
Seorang langsung melangkah maju hendak membalas, namun ku dapat mengelak dengan mudah karena mereka memukul sambil mabuk sempoyongan. Langsung ku balas dengan tinju di dagu dan langsung roboh lagi tidak dapat bangkit.
“Sudah cukup ! apa kalian berani buat onar di kawasan AA Ajat hah ?!” kataku membentak dengan tangan mengeraskan kepalan bersiap lagi meninju.
Tapi entah mengapa mereka malah terdiam,lalu cepat cepat merunduk meraih kedua temannya yang terkapar seperti pingsan lalu membantu mendudukan temanya .
“hey knapa pergi?” Salah seorang hanya bengong nggak mengerti,lalu suara lainnya membalas dengan cepat agar segera pergi.
Seketika gemuruh motor meraung meraung memecah kesunyian malam, sekiranya ada empat enam motor langsung berhamburan meninggalkan kami berdua.
Sekarang kulihat wanita itu terduduk masih menangis, ku mendekat mencoba membantunya bangkit. Namun dia langsung berdiri dan menunduk sambil berterima kasih .
kami segera berjalan menuju perempatan yang sudah semakin dekat, ia sepertinya masih syok dengan kejadian barusan, dalam hati akupuh terpekur dengan kejadian aksi nekatku barusan. Karena bisa saja aksiku itu hanya nambah menambah korban baru, bukannya menyelamatkan. Namun sepertinya kami berdua memang sedang beruntung malam ini, selamat dari kejahatan geng motor yang terkenal sadis. Seakan kami sadar dapat saja kawanan geng motor itu dating membalas
“mm, maaf kamu sekarang mau pulang kemana?” aku coba mencairkan suasana yang begitu tegang.
“Kebun Kopi,” jawabnya singkat tanpa menoleh, seperti masih menangis.
Beruntung, belum lama kami menyebrang jalan ByPass sebuah angkot merah datang menghampiri,lalu kami langsung naik.
Melihatku ikut naik dan duduk disebelahnya membuat wanita itu memandang tajam kearahku.
Sekarang dapat kulihat jelas mata sembab wanita itu, sekarang ia tengah memandangku seakan bertanya .
“mm, arah tujuan kita ternyata sama, kujuga mau pulang ke cimahi” ku coba tersenyum, menjawab kekhawatirannya. Tapi ia terdiam lagi tanpa menghiraukanku,mungkin ia masih terlalu kaget dengan kejadian tadi.
Akupun mengerti dan lebih memilih memandang keluar jendela sambil mendengarkan sopir yang tengah ngobrol bersama dengan rekannya dibangku depan dengan dialek orang sebrang yang begitu fasih, tidak menghiraukan kami yang hanya berdua di bangku belakang yang masih berusaha menghilangkan ketegangan karena kejadian tadi.
Jalan By Pass begitu lengang, manusia semakin jarang terlihat hanya sesekali terdengar raungan motor yang menyusul. Sesekali wanita itu kaget jika suara motornya keras seperti suara motor kawanan geng motor.
“Kasihan sekali wanita itu” ku berkata dalam hati, wanita itu sungguh syok.
Dalam hati ku niatkan akan mengantarnya dengan selamat hingga ke depan pintu rumahnya, mungkin saja nanti di kebun kopi ia pun mesti berjalan cukup jauh menyusuri gang gang sepi yang mungkin saja rawan. Meski tidak ada ceritanya kawanan geng motor melakukan aksinya di gang sempit.
Sekarang kami tiba di terminal lw. Panjang, kami berdua turun untuk berganti angkot menuju kearah cimahi.
Diangkot hijau sekarang kami tidak berdua, ada dua orang lelaki yang sama hendak pulang. Satu berumur cukup tua dan yang satunya lagi seorang bapak setengah baya membawa tas besar seperti hendak merantau atau pergi kerja ke luar kota.
Dalam hati ku bersyukur, mudah-mudahan dengan adanya mereka sedikit bisa menenangkan hati wanita wajahnya masih terlihat kusut.
Sesekali bapak setengah baya melihat ke wajah ke wanita,lalu ia melihat ke arahku seakan ingin bertanya “apa sebenarnya yang terjadi?”
Cukup lama angkot ngetem ,coba menunggu muatan agar penuh.tapi memang malam sudah beitu larut tetap saja jumlah tidak bertambah hanya kami berempat yang naik.
“Yuk ah berangkat pak” kata bapa separuh baya mengajak sang sopir agar mulai berjalan. Meski agak ragu akhirnya sang sopir menggerakkan armada angkutannya untuk melaju meski pelan dan celingukan masih berharap ada bakal penumpang yang masih dapat ia angkut sekarang.
“ah emang malem ya..” sopir didepan seakan bicara sendiri, terdengar mengeluh ia hanya dapat mengangkut kami berempat saja.
“iyang sih bang, tapi mudah mudahan aja di perjalanan ada penumpang yang mau naik” bapak separuh baya itu angkat bicara lagi, seakan mengerti keluhan sang supir.
“Iya kang, AAmiin..” sang sopir seakan termotivasi, yang tadinya mobil angkutan yang maju pelan sekarang agak cepat seakan ikut optimis akan doa sang bapa paruh baya itu.
Dalam hati ku jadi tertarik memandang wajah bapa paruh baya itu, katanya seakan penuh kekuatan meski terdengar ringan. Sungguh bertolak belakang menurutku dengan penampilannya yang terlihat tengah berputus asa untuk hidup.
“malam selarut ini kalian mau kemana ?” akhirnya bapak paruh baya menyapaku, aku kaget yang sedari tadi ternyata bengong memandanginya.
“eh iya,kami mau pulang.. Pak” kataku merunduk seakan tak kuasa menahan pandangan matanya yang dalam.
“kemana ?” katanya lagi masih dengan nada berat.
“Kebun kopi sebrang hotel pak,” entah mengapa katanya terasa berat terdengar olehku, tidak seperti kata ringan yang penuh daya dorong yang bapak itu katakan ke sopir angkutan.
“hati hati neng, lelaki jaman sekarang bisa lebih jahat dari binatang buas” bapak itu malah bicara ke wanita sebelahku, tanpa memperdulikan keheranku. Dalam hati ku agak kesal juga kekagumanku seketika jadi berubah jadi menilai aneh dengan ekpresinya yang berubah begitu jauh dan cepat.
“ah mungkin ia emang benar-benar tengah putus asa ..” aku bicara sendiri dalam hati.
Dan benar seperti dugaanku, wanita itu hanya menunduk saja tidak membalas. Wanita itu benar benar syok dengan kejadian tadi ternyata.
Tapi tiba tiba ia berkata cukup jelas ke supir angkutan agar berhenti, akupun ikut turun dan membayar ongkos jalan kami berdua.
“Mari pak kami duluan,” ku pamit dan coba tersenyum ke bapa paruh baya yang tengah berbaik hati mau menasehati wanita disebelahku. Namun bapak itu hanya diam saja tidak membalas sedikitpun senyum tulusku itu.
Kami berhenti didepan gang, dan benar saja kami mesti meyusuri gang yang sudah begitu sunyi, namun disini tidak terlalu sunyi seperti rumahku dicimahi. Home industry didaerah ini cukup banyak dan banyak pula karyawan lepas yang kerjanya malam hingga hanya sesekali saja kami melewati daerah-daerah sepi.
“ah iya, didaerahnya rumah kakek” kataku bicara sendiri mengingat kemana kami mengarah.
“oh kakak ada family disini ?” katanya yang lembut membuatku kaget, sekarang wanita itu udah mau bicara sekarang.
“ya, ini dekat ke daerah kakek,sejak kecilku sering kesini saat liburan sekolah” aku tersenyum sendiri jadi teringat sendiri kenangan mas kecil.
“oh ..” katanya sekarang terdengar lebih tenang, seketika kulihat wajahnya memang terlihat lebih segar, tidak kusut seperti tadi.
Jika ku perhatikan wajahnya begitu anggun, dan kuyakin ia adalah wanita dari keluarga baik-baik.tidak seperti wanita kebanyakan, ku lihat dari caranya berpakaian yang begitu longgar dan rapi, jika saja ia mengenakan kerudung pastilah ia kuanggap sebagai santri yang biasa mengenakan busana muslimah dengan sempurna.
Dalam hati ku heran juga,kok bisa-bisanya ia berada di jalan selarut ini hingga diganggu geng motor. Tapi ah apa peduliku, aku sendiri nggak ingin membicarakannya. Takut wanita itu jadi syok lagi mengingat kejadian suram tadi.
Kami masih melangkah lagi dalam diam, dengan wanita ini entah mengapa ku merasa begitu canggung. Meski ia sungguh menawan tapi sedikitpun tidak membuatku berani untuk menatapnya terus. Mungkin ku pikir ia adalah wanita baik-baik, lagi pula ia pun belum mau banyak bicara sedari tadi.
“Dari sini akang mau kemana?” katanya berat tiba-tiba memecah kesunyian.
“Tadinya sih ingin langsung ke cimahi, tapi berhubung sudah begitu larut paling nginap dulu kerumah kakek dekat sini sambil rehat” kataku membelas dengan semangat, rasanya ikut senang mendengar dari suaranya terdengar tenang sekarang.
“Rumah ku sudah dekat kak, saya benar-benar berterima kasih sudah menolong dan mengantar hingga selamat sampai sini” sekarang dapat kulihat matamya yang sayu menatap lurus ke arahku
“ah nggak masalah, sudah sewajarnya menolong disaat mendesak tadi. Akupun tadi spontan aja tadi rasanya kok hehe”
“kakak sungguh berani, menolong ku yang tidak kenal sedikitpun dengan kakak” katanya memuji.
“siapa bilang nggak kenal? Kamu Yani anak Pak Somad kan?” kataku sekenanya, karena sebenarnya aku tidak mengenalnya sama sekali.
“Hah? Bukan Yani tapi Fitri kak..”
“Nah sekarang aku kenal kamu,kamu Fitri kan?, jadi wajar nolong yang ku kenal he..” dalam hati ia begitu polos, dengan mudah terpancing permainanku.
“Hah ..?” Ia seakan bingung melihat tingkahku, namun ia sekarang dapat bebas tersenyum hingga bekas-bekas suram wajahnya hilang seketika.
“Oke Fit, kakak pamit ya “ ku segera berbalik.
“Eh kenapa cepet-cepet kak, nama kakak siapa? Kakak tinggal dimana?" Suara halus menahan langkahku,dalam hati berasa geer, ia penasaran juga dengan nama dan alamatku.
“bukan apa-apa kak, Fitri mesti ngeganti ongkos yang tadi dua kali kakak bayarkan di angkutan kota..” wajahnya yang polos bersungguh-sungguh ingin ku menjawabnya.
“Hmm, Panggil aja Abdi ku tinggal dicimahi utara kampong cidahu. Dah ya bye..” Aku langsung berbalik lagi, dalam hati ada sedikit kecewa.
“Wassalamualaikum kak Abdi..” Fitri masih berdiri memandangku, membuatku berbalik lagi.
“Waalaikum salam Fit…” dalam hati kecewa juga mengira ia menanyakan namaku karena ingin mengenalku lebih dekat lagi, ternyata bukan.
“Ah iya Fit, kamu nggak usah ngeganti ongkos angkot tadi. Ku Iklash kok ..” ku berbalik lagi yang ternyata Fitri masih berdiri ditempatnya.
“mmm, sekali lagi terima kasih kak..”
“Dah ah, jangan terus terimakasih. Mestinya kan kita bersyukur kepada Alloh karena telah menyelamatkan kita.. benar kan? He” dalam hati ku kaget juga bisa berkata begitu, ada kata yang keluar dari mulut ini terasa begitu indah meluncur begitu saja. Dan anehnya ku merasa terpesona oleh kataku sendiri.
Fitripun kini seakan tersadar, dan sekarang memandangku dengan berseri dengan mulutnya berguman lirih tak terdengar.
Ku lalu segera berbalik melangkah pulang, dalam ada keinginan untuk kembali berbalik, namun sekarang sudah begitu larut dan mungkin mendekati sepertiga malam. Entah mengapa, saat didekatnya ku rasa ada suatu rasa yang sulit ku jelaskan, padahal baru saja ku berkata-kata singkat dengannya.
Dalam hati ku jadi penasaran apa yang ia katakan,kenapa pula Fitri bicara yang tidak bisa ku mendengarnya? Hingga cukup lama ku berjalan belum juga terpikir apa yang terjadi tadi.
Ah entahlah, sepertinya ku mesti segera pulang untuk tidur. Hingga kantuk begitu kuatnya ku temukan sebuah mushola yang tidak dikunci, entah apa yang menuntunku hingga masuk kedalamnya lalu semuanya gelap tak ingat apa-apa lagi
*********
Kurasakan begitu kuat hawa dingin menelusup ke tengkuk, membuatku terbangun seketika. Dalam keremangan ku terbangun seketika, rasanya ada yang membangunkanku barusan, tapi ternyata disi ku hanya sendiri. terkapar di teras mesjid yang dingin tidak beralas.
Kulihat waktu baru menunjukan pukul empat dini hari, ku segera bangun menuju jamban untuk berkemas sebelum para petugas mesjid berdatangan.
Disini semangat untuk shalat lima waktu kurasa begitu kuat, maka setelah wudhu ku putuskan untuk shalat sunnah tahiyatul mesjid sambil menunggu jamaah yang lainnya berdatangan.
Dalam shalat, fikiranku masih sempat terbang akan kejadian semalam di buah batu hingga ku berakhir disini. Bagaimana wanita itu menangis begitu ketakutan saat dikerubungi kawanan geng motor, hingga ku nekat menyelamatkannya dan memang ku akhirnya menyelamatkannya.
Semakin lama semakin teringat saat ku berjalan dengannya dalam diam, saat itu memang sungguh ku tak bisa bercakap-cakap. Namun kurasa hanya satu kesan yang kurasa kuat darinya saat terakhir kami akan berpisah, bahwa ku merasa sungguh menyayanginya dan sungguh tidak ingin dia terus menangis apalagi ketakutan seperti itu.
“astagfirulloh..” hatiku membatin, ku sadari shalatku salat ini rusak oleh lamunan yang membuatku lupa.
Hingga ku bangkit kembali setelah sujud, dengan ragu apakah tadi rakaat pertama atau justru rakaat kedua? Bagaimana jika ku shalat sunat dengan tiga rakaat?.
Lama ku terdiam menyadari ada yang berubah dalam sembah sujud ku kali ini, entah bagaimana ku dapat merasakannya kembali apa yang pernah membuatku begitu menikmatinya.
Hingga matahari mulai memberi warna kuning akan hari dalam pandanganku, akhirnya ku mesti melupakan apa yang hilang saat pertama bangun. Sesuatu yang hilang yang sulit ku gambarkan.
*********
“Jalanan ku lihat masih sama hingga sekarang, suasana begitu gersang dan sungguh begitu acuh.Aku berjalan sendiri saat ini, bernaung dengan panasnya mentari yang seakan acuh tidak mengganggap peluhku berjalan dibawahnya.
Sering ku bertanya sendiri, sebenarnya mereka semua hendak kemana.kulihat mereka jelas menempuh suatu arah hingga berisi keras saling susul menyusul bahkan tidak jarang terjadi kecelakaan karena ingin cepat sampai menuju tujuan. Sedangkan aku merasa tak tentu hendak mengarah kemana, kurasa semua arah sama, yang kucari hanya arah yang dapat membuat hati ini nyaman saat melangkah, entah kemana ku melangkah? aku selalu bingung memikirkannya.
Tapi setidaknya aku masih cukup beruntung, setidaknya sekarang mengetahui apa yang mesti ku lakukan. Setidaknya ku tidak terlalu bosan menjalani waktu hidup ini, setidaknya ku dapat melakukan suatu aktivitas meski ku merasa kehilangan arah hidup.
Hingga ia hadir saat menangis, ku merasa mendapatkan arah kemana diri ini mesti melangkah. Ya ku harus menemuinya, dan segera menghapus air matanya hingga senyum secerah mentari dapat turut menghangatkan dan menyinari gelapnya hati ini. Kurasa..”
Benarkah dengan arah yang kupilih saat ini? Entahlah, kurasa pilihan ini hanya keinginan jiwa
******
Tidak ada komentar:
Posting Komentar