Berhubung sekolah kami adalah sekolah yang terbilang baru didaerah cibiru, maka masalah kekurangan jumlah kelas sudah bukan terlihat masalah lagi bagi kami, jadinya kami mesti rela mengikuti program penggantian ship jam masuk kelas, sebagian pagi dan sebagiannya lagi masuk siang hari.
Meski
bagaimanapun, tetap sekolah terasa segalanya bagiku, terbayang jika ku tidak
sekolah, mau ngapain jika mesti terus-terusan dirumah? Bosan pastinya seperti
Udin teman sekampungku yang mesti putus sekolah karena sejak ayahnya meninggal
keadaannya cukup susuah untuk membiayai sekolahnya, bahkan untuk makan pun ia
mesti membantu kakeknya mengayam hinis bambu untuk membuat bilik yang digunakan
untuk dinding rumah panggung yang sudah lazim digunakan didaerah kami.
Udin hanya anak satu-satunya ibu nining tetangga kami, dan ia tinggal bersama kakek dan neneknya yang sudah cukup renta. Ada perasaan aneh jika bergaul dengan mereka, meski kehidupannya begitu sederhana, aku begitu nyaman bila bermain dirumahnya, tidak seperti jika bermain diteman yang lainnya meski mereka hidup dikeluarga berada.
Meski hidup serba kekurangan, menurutku udin adalah teman
yang begitu kreatif dalam membuat berbagai jenis mainan, meski sering ku
dikesalkan oleh kenakalannya.
Saat teman-teman marak membeli pistol air, udin membuat semprotan air dari bamboo kecil. Saat teman lainnya merengek kepada ortu ingin membeli pesawat terbang remot control, ia sudah memanjat keatas pohon yang cukup tinggi mengikatkan benang layangan dan membentangkannya menurun kebawah, yang nantinya dikaitkan kapal-kapalan dari bambu yang nantinya melucur seperti terbang jika dilihat dikejauhan, yang selanjutnya menginspirasi teman lainnya untuk bermain perang-perangan. Dan kapal buatan Udin itulah yang dianggap peasawat musuh kami.
Pribadi Udin begitu unik menurutku, meski kebiasaan buang kakusnya sering
sembaranga dikebun tetangga (karena dirumahnya belum ada toilet). Bahkan kadang
jadi hiburan tersendiri, saat ada temen kami yang tidak sengaja meninjak tinja
Udin saat bermain dikebun.
Ada-ada saja tingkah polahnya, dan aku rasanya lebih nyaman saat berteman dengannya. Kesederhanaannya lebih membuat hati ini sejuk, ketimbang saat bermain dengan teman-teman yang kaya raya, bila dengan mereka yang ada aku selalu merasa terhina dan panas hati karena iri dengan mainan baru mereka di tiap harinya.
Saat bersama dengannya, sering ku terfikir akan perasaannya. Bagaimana rasanya
hidup tanpa seorang ayah? Bagaimana ia menjalani hidupnya sehari-hari tanpa
bersekolah? Bukankah jika tidak bersekolah teman mainnya sangat terbatas? Tidak
sebanyak temanku disekolah?
Pernah pula ku ikut menangis melihat ia tengah disiksa oleh kakeknya, dengan rotan bambu kecil, ia menangis meraung-raung tanpa ada yang menolongnya seorang pun, karena semua orang memang tidak ingin cari-cari masalah dengan kakeknya itu. Kakeknya galak, hingga setiap anak seumuranku pasti berlarian karena takut olehnya, akupun berani bermain dengan udin jika kulihat kakeknya itu tengah sibuk bekerja mengayam bambu atau sedang pergi mencari bambu ke kebun.
Ingin ku dapat berbuat lebih untuk menyenangkan perasaannya,
bagiku Udin lebih dari sekedar teman bermain. Keceriaanya ikut menambah riang
hariku jika saat bersamanya, keberadaannya seakan dapat menemaniku yang kurasa
hidup ini tidak adil bagiku. Bila ia mendapat perlakuan kasar dari kakeknya,
akupun sama mendapat perlakuan kasar adari ayahku. Jika ia tidak dapat
terpenuhi semua keinginannya, maka akupun sama-sama mengalaminya yang hidup
serba terbatas.
Saat ku hendak berangkat pergi sekolah selepas azdan Dzuhur, wajahnya terdiam sekan berharap dapat mengajaknya ikut serta bersekolah bersama, lalu apa yang dapat kuperbuat oleh anak seusiaku?, sedangkan keluarga ku sama-sama memprihatinkan keadaanya ekonominya, hanya bedanya aku dan kedua saudara kandungku dapat bersekolah.
* * * *
Minggu ini saatnya ku dapat bermain puas dengan udin, di hari minggu biasanya kami berjalan-jalan ke kebun atau sawah dipinggiran perum baru yang orang-orangnya terasa asing dimata kami.
Siang hari baru saja berlalu, kami duduk-duduk dibawah pohon
lengkeng sekedar melepas lelah sehabis berjalan cukup jauh menyusuri kebun
kebun singkong yang belum lama ditanami pemiliknya.
Belum lama kami melepas lelah, tiba-tiba saja yang punya kebun berteriak-teriak sambil mengacungngacungkan sebilah golok panjang, kontan saja kami berlari secepatnya ketakutan. “Apa yang salah dengan kami?” pikirku. Belum lama ku berfikir,, aku segera tahu mengapa bapak itu begitu marah, udin ternyata beristirahat sambil memanen ketela yang belum siap panen, ukurannya masih kecil hanya seukuran jempol tangan dewasa.
“Udin..!” ku kaget melihat apa yang terkumpul dalam
lipatan kaos oblong longgarnya.
“Nggak banyak kok..” katanya mengacungkan hasil panennya
sambil berlalri.
“dasar !” aku masih terus berlari secepat-cepatnya.
“haha.. ah emang pelit bapak itu” Udin malah
cengengesan
Kami terus berlari hingga yakin bapak pemilik kebun tidak
terlihat lagi mengejar kami, nafas kami masih ngos ngosan tapi udin masih
cengengesan, beda denganku yang kaget dan takut setengah mati. Apalagi jiga
teringat mimic wajah yang punya kebun yang terlihat begitu kesal seakan mau
memotong-motong tubuh kami dengan golok panjangnya.
“kamu kenapa Dam? Kok ketakutan gitu?” Udin berhenti
tertawa, mulai serius memperhatikanku.
“kamu nggak takut dengan bapak tadi yang ngejar sambil
mengacungkan golok panjang?” kataku heran.
“oh haha… “ udin jadi cengengesan lagi, seakan mengejek
dan itu sungguh membuatku mual jika melihatnya terus seperti itu.
“bapak itu hanya mengertak saja, toh dia takkan rugi diambil
sedikit” udin berkata tenang,seakan tidak bersalah.
“tapi kenapa dia sampai mengacungkan golok segala?” aku
jadi tambah heran.
“ya bapak itu memang kesal, tapi bukan kesal karena dicuri
singkongnya, tapi kesal karena kita memang merusak tanaman yang baru ia tanam
dikebunnya.
“tapi bukannya mencuri itu dosa?” kataku tak mau kalah.
“nah, lalu apa merusak tanaman orang juga tidak dosa?” Udin
lebih sengit lagi.
“aku kan nggak tau jika tanaman yang diinjak itu emang
sengaja ditanam, kamu juga nggak ngasih tau kalo tanaman itu sengaja ditanam
pemiliknya..?” Aku jadi merasa bersalah.
“maaf Dam, aku pun mencuri sekedar hanya ingin mengganjal
rasa laparku saja..”
* * *
Note:
Kepada sahabat masa kecilku, maaf atas segala kesalahan,
moga kita dipertemukan lagi dalam keadaan penuh ridho dan
diridhoi-Nya
aamiin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar