--Rinduku terbiaskan debu-debu yang kelam saat
ia menjauh dariku, entahlah apa yang ia pikirkan tentangku. Hatiku tiada
sangsi bahwa ia pun menyayangiku, lalu.. mengapa ia pergi ??-- 8 Juni 07.
Awal malam itu ku berkunjung lagi ke rumahnya, sekadar untuk
menyampaikan pesan balasan dari teman sekantorku. Sebetulnya ku begitu
malas jika hanya berfikir untuk menyampaikan pesan-pesan si Ardi.
Tapi kesannya jadi jelek jika menolak, padahal letak kontrakanku dari
rumah Andini memang begitu dekat. Nanti dikata naif lah, dikata sok alim
lah, padahal kan mending dibilang sok alim daripada sok hianat.
Bila ku lihat mereka itu sebagai sepasang kekasih?, kulihat mereka
tiada ikatan seperti suami istri. Tapi bila dikata hanya sebatas
teman..?, kurasa mereka terlalu terikat.
Loh aku jadi ikut
campur urusan mereka sih? Lha jelas ikut campur lah, mereka duluan kok
yang selalu nyuruh aku jadi mediator komunikasi diantara mereka. Ya
meski hanya seorang penyampai surat.
Tidak
seperti biasanya penyambutan Andini kali ini terhadapku, meski ia tetap
dengan senyumnya yang lembut, tapi binar-binar matanya yang khas itu
kini terlihat meredup oleh sesuatu yang pastinya aku sendiri tidak tahu.
Aku sendiri dapat melihat pipi Andini yang baru kering dari air mata.
Biar serapih mungkin ia menyembunyikannya dari ku tapi mata yang merah
dengan perubahan sikapnya itulah meyakinkanku bahwa kini ia sedang di
rundung suatu masalah.
Kesedihannya kini semakin jelas saja
saat Andini membaca surat yang baru ku bawa. Andini tidak langsung
menyiapkan secarik kertas untuk membalas seperti biasanya, tapi ia malah
menyandar lemah ke kursi, sembari memperlihatkan isi suratnya
kepadaku..
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - - - - - - - - - - - - - -
Assalammualaikum.. Andini sahabatku..
Ku temukan dalam suatu riwayat yang terpercaya, bahwa betapa banyaknya
hubungan yang begitu dekat di dunia ini, berubah menjadi suatu hubungan
yang sangat buruk kelak di akhirat. Karena hubungan yang terjalin itu
tidak sejati, karena bukan ridha Alloh tujuannya.
Saat
di dunia semua para kekasih berusaha membuktikan ketulusan dan
kemurnian perasaannya, tapi terbukti di akhirat cintanya itu palsu dan
hanya karena nafsu syahwat semata.
Mereka yang saling
menyayangi di dunia menjadi saling menyalahkan diakhirat, rasa sayang
itu seakan tidak pernah terjadi dan mereka hanya saling mencaci dan
memaki hingga tiba di depan pintu neraka.
Andini..,
Tentu seorang kekasih yang sejati itu tidak ingin orang kesayangannya celaka, karena keinginan pribadinya.
Dan tiada cinta yang diselamatkan Alloh kecuali cinta atas dasar karena-Nya, dengan suatu ikatan yang kokoh yakni pernikahan.
Saat ini ku sadar telah membuat suatu kesalahan besar terhadapmu,
dengan kelancangan sikapku dan perasaanku, padahal kita tidak
meniatkannya kearah pernikahan.
Bila kita memang
bena-benar serius ingin bersatu, sehidup-semati, mengapakah kita tidak
langsung saja menikah?,dengan menerima segala keadaan kita
masing-masing?.
Din.., maafkan aku. Aku memang tiada berdaya mengusahakan yang terbaik saat ini.
Tapi, setidaknya aku dapat mengambil suatu keputusan yang terbaik untuk masa depan kita kelak di akhirat.
Biarlah saat ini kita berpisah sejenak di dunia fana ini, tapi kita
berbahagia bersama karena keselamatan di akhirat yang lebih kekal.
Andini..,
Mungkin kita sulit menerima kenyataan ini, tapi percayalah!. Bahwa kita
mampu melewati penantian yang sementara ini, asal kita yakin dan
meminta kekuatan kepada Pemilik sumber dari segala kekuatan.
Andini semua akan berjalan seperti adanya, asal kita mau lebih kuat lagi menghadapi semua ini.
Percayalah Din..
wassalamualaikum..
(Ardi)
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - --
“Lho
Din ?, bukannya ini bagus! Hubungan kalian jadi jelas terikat tali
pernikahan nantinya (jadi halal tidak haram dan samar lagi)..” seketika
saja ku nyeletuk, dalam hati ku senang bila mereka menyudahi pacarannya
dan tidak lagi harus jadi mediator diantara mereka.
“Tapi ibuku..”Sejenak mata sembabnya melihat dalam kearahku, lalu merunduk lagi menyembunyikan air mata yang tertumpah itu.
* * * *
“Ndin, benar kamu rela menuruti keinginan ibu?” malam itu ibu Andini berkata lirih di samping Andini yang terbaring lemah.
“Memang kenapa bu? Apakah ibu ragu Dini ingin menjadi anak yang
berbakti?” Andini hanya tersenyum menanggapi pertanyaan ibunya yang
kerap terdengar semenjak Ardi berhenti mengirimkan pesan-pesannya.
“Bukan begitu Ndin, hanya ibu melihat kamu begitu berat jika harus
berpisah dengan Ardi” Ibunya mengusap keringat-keringat lembut di kening
Andini.
“Bu.., bukankah itu keinginan ibu terhadap Dini?” Andini berkata lirih.
Ibunya hanya diam mendengar jawaban Andini seperti itu, seakan kini
alasannya menghalangi Ardi dari anaknya sangatlah tidak beralasan.
Tapi kenangan-kenangan dulu akan perlakuan ayah Andini terhadapnya,
membuat ia harus tega menolak Ardi. Karena latar belakang Ardi dalam
pendidikannya yang mirip dengan ayah Andini.
…
“Bijaksana seseorang itu terlihat dari ilmunya, dan ketinggian ilmu itu
tergantung dari lamanya jenjang pendidikan orang itu sendiri” Ibu Andini
teringat lagi alasan mendiang kakek Andini yang tidak merestui
pernikahannya dulu.
“Cukuplah ibu yang merasakan pahitnya karena tidak menuruti pepatah itu” ibu Andini berkata dalam hati.
…
Sesekali ibu Andini menoleh kepada Andini yang kini tengah tertidur,
lalu berganti memandangiku, dan terdiam sejenak seakan ada bayang-bayang
didepannya yang belum dapat ia mengerti.
Kisah masa lalu yang terasa sebagai sebuah bagian hidup yang kelam dan sulit untuk pupus dari ingatan.
Kisah masa lalu yang sering menghantui masa yang tengah dijalani dan
terus berpengaruh ke masa depan, bila begitu kapankah masa yang
benar-benar baru akan dimulai?, padahal segala sebab akibat telah
terjadi karena berguru kepada masa lalu itu?
“Di,
Ardi..,” Andini mengigau hingga memecah lamunannya akan kisah-kisahnya
yang lalu itu, aku pun tersadar yang sedari tadi jadi ikut terdiam
seakan terhanyut raut muka ibu Andini yang sendu.
“Ndin,
Ndin..!” Ibu Andini hanya bengong dan memandangiku, aku pun kaget
berusaha menyadarkan Andini yang keningnya kini semakin panas saja.
“Bu, maafin Dini..” Andini terbangun mendapati ibunya tengah terisak di sampingnya.
“Lho kenapa Ndin..? barusana kamu memimpikan Ardi ?” Ibunya makin khawatir akan putrinya yang paling besar itu.
“Dini masih belum mengerti maksud baik ibu, kenapa ibu menolak Ardi
sebagai menantu?” Kini mata Andini tidak sanggup lagi menahan luapan air
matanya.
“Ndin, ibu hanya ingin kamu bahagia kelak, dengan
mendapat suami yang lebih terpelajar dan mapan” Ibunya pun mulai
menangis melihat Andini seperti itu.
“Memang seorang wanita itu
untuk apa menikah bu?” Tanya Andini agak hati-hati sembari cepat-cepat
mengusap air mata yang semakin membajiri pipinya.
“Kita menikah untuk ..?” ia bingung tak menyangka anaknya bertanya seperti itu.
“Kita menikah ya untuk kebahagiaan kita Ndin !?” Ibu Andini kali ini agak keras tetap berusaha membuat Andini mempercayainya.
“Bila kita menikah untuk itu, mengapa banyak orang yang bercerai?
Berarti mereka melepaskan kebahagiaan mereka sendiri” Andini berkata
lebih hati-hati.
“Bila bercerai itu yang terbaik? Apa boleh
buat, kita harus rela mengorbankan kebahagiaan kita..” Kali ini ibu
Andini berkata agak ragu.
“Berarti kebaikan itu memang lebih penting ya bu?” Andini tersenyum lemah memandang ibunya.
“Itulah bu, mengapa sebelumnya Andini menerima lamaran Ardi tempo hari sebelum Dini meminta restu kepada ibu, ..”
“Memang apa kebaikan yang terasa oleh mu dari Ardi ?!” Belum selesai Andini berbicara, Ibunya langsung memotong.
“Dini mendapat pengetahuan tentang agama yang selama ini hanya
pelengkap identitas saja. Bahwa Islam itu begitu menghormati seorang
wanita, hingga Dini mengetahui jalan untuk dapat menjadi wanita paling
terhormat, menjadi wanita paling bahagia Bu… Dan Dini sadar bahwa itulah
yang dini butuhkan selama ini” Andini mulai lapang berbicara kepada
ibunya.
Sekarang ibu Andini terdiam, ia menyadari
pengasuhan terhadap anaknya memang terlalaikan olehnya karena aktivitas
pekerjaan sehari-hari di kantor.
Ibu Andini teringat lagi
kehidupan anaknya yang jauh berbeda dengan keadaannya sekarang, ia
teringat lagi Andini dulu yang sering melawannya, jarang di rumah,
sekolah tidak menentu, dan matanya selalu terbakar api kemarahan
terhadapnya. Tapi sekarang semuanya itu dapat berubah dengan ajaib.
“lalu.., mengapa kamu sekarang jadi berpakain aneh seperti itu ?” Ibu Andini memegang gamis longgar dengan tudung lebarnya.
“Inilah salah satu syariat Islam yang melindungi kehormatan wanita,
sehingga kita tidak seperti barang pajangan di etalase yang semua lelaki
dapat melihat kemolekan tubuh kita, sekaligus menutupi keburukan dari
diri kita” Andini senang ibunya bertanya seperti itu.
“Percayalah bu, Pencipta itu tentu lebih mengetahui apa yang terbaik
bagi ciptaan-Nya sendiri, ketimbang apa yang di ketahui oleh mahluk yang
diciptakan-Nya.” Andini memegang tangan ibunya dengan peneuh hormat dan
kasih sayang, berharap ibunya mendapat hidayah dari ALLOH Subhanahu wa
ta’ala.
“Coba tanya dia, mungkin ibu bisa lebih mengerti..” Tangan lemah Andini menunjukku, sontak seketika ibunya pun memandangiku.
“Lho..?” Aku hanya tergagap menepis pandangan mereka berdua yang kuat akan kenangan pahit.
Ya ALLOH.., apa aku bisa menjelaskan ? Padahal aku sendiri seakan berat
untuk merelakan Ardi. La haula wala quwwata ila biLLAH..
* * * *
Sore itu Andini datang ke kontrakanku yang hanya terhalang dua rumah dari tempatnya.
“Sebelumnya Ardi hanyalah berniat mengajaku lebih memahami agama ku
sendiri, tidak lebih dari itu..” Andini sore itu menjelaskan maksud
Ardi yang sebenarnya.
“Lalu mengapa ibumu melarang Ardi untuk berkunjung?” kataku belum mengerti.
“Itulah letak kesalahpahamannya..” Andini menunduk.
“Ibuku, termasuk aku sendiri salah mengerti akan sikap Ardi yang begitu
baik dan sering berkunjung kerumahku” Suara Andini lirih seakan
menyesalkan.
“Ketika itu ibu menyangka Ardi menyukaiku, dengan
menanyakan semua indentitas Ardi, tinggal dimana, lulusan mana, kerja
apa, dan ..entahlah apa lagi” Andini terdiam.
“Salahnya akupun
jadi berharap padanya, meski Ardi tidak pernah menyinggung sedikitpun
tentang pernikahan” Kulihat Andini sekarang wajahnya jadi memerah.
“Karena perasaanku yang tidak tertahankan, akhirnya saat itu
kuberanikan diri untuk mengutarakan perasaanku meski sangat malu, Ardi
pun menerimaku dan berjanji akan mendatangi rumahku untuk melamarku”
Andini sedikit tersenyum.
“Tapi diluar dugaan, ternyata ibuku
langsung menolak Ardi karena pekerjaan Ardi yang menurut ibuku kurang
baik, padahal saat itu orang tuanya sudah baik-baik datang menyampaikan
..” Andini terdiam lagi.
“Saat itu perasaanku benar-benar kalut tidak menentu, hingga..”
“Hingga kenapa Din?” ku semakin penasaran.
“Hingga aku tak sadar mengajak Ardi untuk kawin lari saja, disitulah
permasalahannya semakin runyam saja.” Mata Andini berkaca-kaca.
“Ardi kaget, katanya aku terlalu diburu nafsu. Ardi tetap berisi keras
harus mendapat restu ibuku, karena menurutnya ibuku begitu hanya karena
belum faham” Air mata Andini makin menderas.
“Jika begitu Din, kamu tinggal membujuk ibumu saja kan?” Kataku mencoba memberi solusi.
“Tapi gimana caranya? kamu tahu sendiri ibu itu begitu keras kepala” Andini menatapku tidak berdaya.
“hmm.. Din, menurutmu bagaimana Ardi dapat mengubah sikapmu hingga
seperti saat ini? padahal Andini yang dulu ku kenal itu begitu tomboy
dan benci laki-laki” Aku spontan tersenyum.
Andini
termenung, ia sadar ia mengalami perubahan setelah bertemu Ardi. Ia
tersenyum-senyum pikiranya menerawang jauh ke belakang.
“Kamu benar Min, mungkin ibuku saat ini sama sepertiku yang tersiksa
oleh pandangan-pandangannya sendiri” Andini memandang kosong.
“Tapi Min, dalam pesan akhir-akhir ini Ardi seakan ingin memutuskan saja
hubungan yang telah jauh terjalin, karena sejak saat itu Ardi tidak
pernah lagi menghubungiku” Andini mengusap air matanya.
“mungkin itu hanya perasaanmu Din, dan ..” Ku diam rasanya kelu jika harus mengatakan dengan tegas.
“Dan apa Min ??” Andini menatapku penasaran.
“Dan menurutku kamu tidak perlu terlalu berharap terhadapnya, bukankah
jodoh itu ditangan ALLAH Swt ?” Kataku agak hati-hati, dan sekuat tenaga
ku tahan kecemburuanku yang rentan menodai akan kebenaran yang
semestinya ku sampaikan.
“Yah Ardi pun pernah bilang, ALLAH
pasti lebih memahami perasaan hamba-Nya, tapi ALLAH pun Maha Mengetahui
apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Mungkin apa yang buruk menurut kita itu
adalah apa yang terbaik menurut ALLAH, juga sebaliknya” Andini berkata
seakan melengkapi perkataan ku.
“Menurutmu apakah Ardi memang
benar-benar akan menepati janji?” Ku berkata tiba-tiba dengan
sendirinya, percik-percik harapan dan cemas terus menderaku.
“Aku yakin Min, ku yakin ia akan menepati janjinya jika aku mendapat restu ibuku” Andini optimis.
“Nah jika begitu, saatnya kamu menyampaikan apa yang disampaikan Ardi
terhadapmu, terutama tentang kaidah-kaidah tauhiduLLAH” Ku tepuk
pundaknya menyemangatinya, meski rasa kecewa hati ini tidak dapat ku
pungkiri .
“Yah mungkin begitu seharusnya.,” Andini tersenyum lirih.
“Memang begitu, Ardi seakan mengujimu apakah apa yang disampaikannya
benar-benar menjadi suatu keyakinan kuat terhadapmu. Karena jika
seseorang yang berkeyakinan kuat itu tidak mudah terpengaruh justru jadi
berpengaruh dan mempengaruhi.” Ku terus menyemangatinya, Andini hanya
tersenyum saja menatapku.
* * * *
Matahari belum sepenuhnya muncul di ufuk timur, sinarnya yang lembut
mulai menghangatkan hari yang sebelumnya dingin oleh dekapan malam.
Saat-saat libur seperti ini memang begitu nyaman menurutku, sesudah
shalat subuh ku bisa duduk santai di teras kontrakan hingga bertemu sang
mentari dengan khasnya udara bumi yang sejuk dan segar di pagi hari.
Liburan hari ini benar-benar sejuk terasa, karena tidak gerah oleh
surat-surat Ardi yang mesti harus ku sampaikan kepada Andini ataupun
dengan kisah-kisah konflik antara mereka berdua.
Sudah sebulan
ini Ardi tidak titip surat buat Andini, begitu juga dengan Andini
sekarang tidak membahas perasaan hatinya yang heboh itu.
“Apa mereka nggak jadi nikah ?, atau malah udah nikah ?..” Tiba-tiba ku jadi kepikiran kelanjutan kisah mereka.
“Ah kok aku jadi ikut campur seh?, pasti mereka kasih info untuk urusan sebesar itu”
Air teh manis yang hangat ku minum lagi agar hangatnya kembali terasa
dalam jasadku, dengan nyanyian-nyanyian kecil ku ikuti nada musik yang
lembut di radio.
Ku pejamkan mata agak lama sambil ku hirup
kuat-kuat udara yang segar itu, saat mataku ku buka, “astagfiruLLAH !!”
aku kaget, karena ia datang dengan Tiba-tiba ..
“Assalamualaikum Ukhti..”Ardi tersenyum renyah.
“Ardi..!” Aku setengah teriak, kaget melihatnya seketika tengah tersenyum yang mungkin sedari tadi ada di hadapanku.
“Kamu ngapain merem-merem sambil mengembangkan hidung kayak gitu ? Ardi
hanya cengar-cengir, wajahnya terlihat cerah berseri-seri.
“Sejak kapan kamu ada disitu?” Nada ku agak tinggi,kaget campur kesel juga
“He he, maaf non.. Kaget yah?” Senyum Ardi makin melebar, cengengesan.
“Ya iya lah! Dateng kok tiba-tiba”
“Iya iya, sekali lagi maaf Min” Ardi memandangku yang masih dengan senyumanya.
“Sudahlah, nggak usah dibahas lagi” ku coba menetralisir wajah merahku.
“…” Kami jadi hening, terdiam.
“Sebentar ku buat kopi” Aku pamit ke dapur.
“Eh min, nggak usah. Aku hanya hendak bicara sebentar..” Cegah Ardi seketika.
“.. Ada apa Di ?” Ku lihat Ardi kali ini hanya diam merunduk.
Ardi terdiam kembali, kulihat wajahnya tetap merunduk seakan sedang mencari suatu kata yang hilang.
Ardi seketika memandangi ku, lalu ia langsung berpaling memandangi mentari kekuningan yang sekarang hampir terlihat sempurna.
Entah kenapa hatiku jadi gusar tidak menentu, berdegup seakan sejuknya
pagi yang bergulir sekarang tidak terindra oleh indraku.
“AstagfiruLLOH..” Hatiku berkata, hati ini seakan menolak akan
perjuampaan ini, seakan masa dulu yang kelam hendak menjajah kembali.
“Ehm !, maaf Di, sebenarnya ada apa? Eh ya, gimana kabar Andini ?
sehat.. ?” ku coba cairkan suasana, sekaligus hendak mempersingkat
pertemuan ini.
“eh Andini ?, baik..” Ardi tersenyum.
“terus.. ?!” Ku terus desak ia, karena jika tidak begitu bisa sampai
seharian ini ku menungguya berbicara, dan itu bukan sesuatu yang baik
menurutku.
“Be- begini min, minggu depan aku berencana melamar Andini kembali, insyaALLAH..” Ardi terdiam menunggu responku.
“BarokaLLAHu laka ..” Belum sempurna ku berdo’a.
“Ta- tapi, Andini tahu bahwa sebelumnya aku berniat padamu” Merah padam sekarang muka Ardi.
“Memang kenapa? Aku yakin Andini mengerti” Entah mengapa hatiku seakan memanas.
“Andini ingin lebih yakin bahwa aku benar-benar memilihnya” Sekarang Ardi sungguh memperhatikanku.
“Ia mengetahui bahwa sebelumnya kita pernah berencana untuk menikah”
“Namun karena saat itu aku bukanlah seorang muslim kamu tidak bisa menerimaku”
“Dan sekarang aku telah memilih Islam, Andini heran mengapa kita tidak menikah ?” Ardi berkata hampir tidak terdengar.
Ya ALLAH akhirnya pendaman-pendaman jiwa ku harus terbongkar juga,
perih ini memang sudah seharusnya ku akhiri, dan tiada yang setara
dengan ridha ALLOH, hatiku akan semakin sakit jika tidak mengambil suatu
keputusan yang tegas terhadap perasaanku sendiri, astagfiruLLAH ..
“Di, saat itu aku takkan pernah bisa menerima mu, Karena Dien Islam tidak menghalalkan pernikahan itu..
Dan sekarang kamu telah terikat komitmen dengan Andini, meski telah
memeluk islam, sedang aku pun terlalu malu untuk mengajakmu menikah.
Jadi tetap saja aku tidak layak bagimu
Memang rasa ini sulit di
mengerti dan sulit mengerti kita, yang terpenting menurutku kita sudah
mengerti mengapa kita memilih Islam, dengan penuh kesadaran bahwa hanya
Islam jalan terbaik untuk dunia dan akhirat. Itu lebih membahagiakanku
dari pada menerima lamaranmu, sungguh..
Semuanya telah terjadi,
tak perlu merubah rencana kalian yang hampir terlaksana, hanya ALLAH
saja yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi Hamba-nya”
Ardi terdiam sesaat, sedang aku harus berusaha sekuat-kuatnya untuk menjaga perasaanku.
“SubhanaALLAH.., pagi ini benar berkesan menurutku. Aku takkan lupa, ..”
“Kamu harus dateng yah ke pernikahan kami, setelah itu mungkin kita tidak ketemu lagi”
“Lho kok gitu ?”
“Rencananya kita pindah ke perkampungan, nyari suasana yang lebih sehat”
“Oh gitu, disini juga bisa menyehatkan lho kalo kita jadi jalan hidayah bagi seluruh masyarakatnya..”
“semoga ..” Ardi tersenyum kecil.
“Assalamualaikum” Ardi pamit dengan senyuman yang masih terbawa.
“Waalakumussalam wa rahmah..” ku lihat Ardi meninggalkanku dengan
gontai, meninggalkanku untuk dapat bertemu kelak, suatu saat yang
semuanya berkumpul tidak berdaya dihadapan keadilan Tuhan-ku Yang Maha
Adil.
Biarlah semuanya berjalan dengan apa adanya, dengan
ke-Bijaksanaan-Nya. ku yakini. Pasti.., pasti ! ini yang terbaik bagi
kita.
Ataupun ini adalah suatu cobaan yang begitu berat
terhadapku ?, tidak bila ku dapat mengikuti arahan Tuhan-ku Rabb semesta
alam…
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia
kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak,
dan harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan,
binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di
dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (syurga).
Katakanlah, ‘Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari
yang demikian?’ Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada
sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.
Mereka kekal di dalamnya. Dan, (mereka dikaruniai) istri-istri yang
disucikan serta keridhaan Allah. Allah Maha Melihat akan
hamba-hamba-Nya. (Yaitu), orang-orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami,
sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan
peliharalah kami dari siksa neraka. ‘(Yaitu), orang-orang yang sabar,
benar, tetap taat, menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang
memohon ampun di waktu sahur.” (Ali-Imran: 14-17)
* * * *
*Cimahi, 11Des07 04:14.
janmenulis@gmail.com