Catatan seorang Nenek
Oleh : Hanif
Oleh : Hanif
“ Nyonya, mamah kapan pulang?.
Mamah bilang, mau ngajak Bilal ke pantai dan mencari sampah disana ”
_
Nada lugu dan gerakan kecilnya menarik lengan baju seolah merayuku. Namanya “ Bilal ”, seorang anak kecil berusia 4tahun yang menderita penyakit gula darah sejak lahir. Dia adalah cucuku.
_
“Mamah sedang membantu papah bekerja diluar kota, tempatnya jauh. Jadi, satu minggu ini tidak bisa pulang ”
_
Penjelasanku membuatnya lantas murung, kemudian berlari ke arah halaman belakang.
Ku perhatikan, dia duduk menyangga kedua dagu ditepi teras sana. Ku dekati dia dengan sikap seorang manager pada karyawannya.
_
“Nyonya, Bilal bisa dihukum bu Guru kalau tidak mengerjakan tugas ”
Ujarnya sambil menggenggam jemari tanganku yang sudah berdiri tepat dibelakang, dengan raut penuh kekhawatiran.
_
Tugas liburan sekolah.
“Membuat album memoriar bertema “kebersihan” dari Guru TK yang Bilal maksud tersebut, Sesungguhnya aku tahu.
_
Nada lugu dan gerakan kecilnya menarik lengan baju seolah merayuku. Namanya “ Bilal ”, seorang anak kecil berusia 4tahun yang menderita penyakit gula darah sejak lahir. Dia adalah cucuku.
_
“Mamah sedang membantu papah bekerja diluar kota, tempatnya jauh. Jadi, satu minggu ini tidak bisa pulang ”
_
Penjelasanku membuatnya lantas murung, kemudian berlari ke arah halaman belakang.
Ku perhatikan, dia duduk menyangga kedua dagu ditepi teras sana. Ku dekati dia dengan sikap seorang manager pada karyawannya.
_
“Nyonya, Bilal bisa dihukum bu Guru kalau tidak mengerjakan tugas ”
Ujarnya sambil menggenggam jemari tanganku yang sudah berdiri tepat dibelakang, dengan raut penuh kekhawatiran.
_
Tugas liburan sekolah.
“Membuat album memoriar bertema “kebersihan” dari Guru TK yang Bilal maksud tersebut, Sesungguhnya aku tahu.
Sejenak kutatap wajah anak kecil yang begitu polos itu.
Di balik sorot matanya yang sayu, tersimpan sebuah catatan yang panjang.
_
Aku membencinya.
Aku kerap memakinya.
Aku pernah menyuruh sang ibu untuk membunuhnya.
Aku pernah membentaknya kasar, dan melarangnya memanggilku “Nenek”.
Walau begitu, dia tetap menjadi anak yang senang bermanja dan tidak menjadi takut pada ku. Dia anak yang cerdas dan patuh pada apa yang di ajarkan ibunya.
_
“Nyonya, Bilal takut dihukum ibu Guru ”
Kini, tatapannya begitu menyedihkan.
_
Di balik sorot matanya yang sayu, tersimpan sebuah catatan yang panjang.
_
Aku membencinya.
Aku kerap memakinya.
Aku pernah menyuruh sang ibu untuk membunuhnya.
Aku pernah membentaknya kasar, dan melarangnya memanggilku “Nenek”.
Walau begitu, dia tetap menjadi anak yang senang bermanja dan tidak menjadi takut pada ku. Dia anak yang cerdas dan patuh pada apa yang di ajarkan ibunya.
_
“Nyonya, Bilal takut dihukum ibu Guru ”
Kini, tatapannya begitu menyedihkan.
_
Batinku bergetar..
Ku telan ludah, beradu argumen dengan diri ini.
_
Ku telan ludah, beradu argumen dengan diri ini.
_
Apa boleh aku menghapus semua
catatan itu?, menggandeng tangannya.
Pergi, bersamanya.
Pergi, bersamanya.
Di tepi pantai, memunguti sampah dan bermain bersama.
Menjadi seorang Nenek yang bahagia.
Menjadi seorang Nenek yang bahagia.
Biodata penulis
Nama : Hanif
dilahirkan pada 9 Maret 1992
Penulis adalah seorang pelajar
yang kini tinggal di Kota Cirebon, beliau aktif bersama teman teman semua ikut
memeriahkan pesta fiksi Indonesia
Beliau dapat dihubungi melalui
akun media sosial di https://www.facebook.com/hanif.anugra/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar