Laman

Senin, 21 Maret 2016

Cucuku


Catatan seorang Nenek
Oleh : Hanif 


“ Nyonya, mamah kapan pulang?. Mamah bilang, mau ngajak Bilal ke pantai dan mencari sampah disana ”
_
Nada lugu dan gerakan kecilnya menarik lengan baju seolah merayuku. Namanya “ Bilal ”, seorang anak kecil berusia 4tahun yang menderita penyakit gula darah sejak lahir. Dia adalah cucuku.
_
“Mamah sedang membantu papah bekerja diluar kota, tempatnya jauh. Jadi, satu minggu ini tidak bisa pulang ”
_
Penjelasanku membuatnya lantas murung, kemudian berlari ke arah halaman belakang.
Ku perhatikan, dia duduk menyangga kedua dagu ditepi teras sana. Ku dekati dia dengan sikap seorang manager pada karyawannya.
_
“Nyonya, Bilal bisa dihukum bu Guru kalau tidak mengerjakan tugas ”
Ujarnya sambil menggenggam jemari tanganku yang sudah berdiri tepat dibelakang, dengan raut penuh kekhawatiran.
_
Tugas liburan sekolah.
“Membuat album memoriar bertema “kebersihan” dari Guru TK yang Bilal maksud tersebut, Sesungguhnya aku tahu.
Sejenak kutatap wajah anak kecil yang begitu polos itu.
Di balik sorot matanya yang sayu, tersimpan sebuah catatan yang panjang.
_
Aku membencinya.
Aku kerap memakinya.
Aku pernah menyuruh sang ibu untuk membunuhnya.
Aku pernah membentaknya kasar, dan melarangnya memanggilku “Nenek”.
Walau begitu, dia tetap menjadi anak yang senang bermanja dan tidak menjadi takut pada ku. Dia anak yang cerdas dan patuh pada apa yang di ajarkan ibunya.
_
“Nyonya, Bilal takut dihukum ibu Guru ”
Kini, tatapannya begitu menyedihkan.
_
Batinku bergetar..
Ku telan ludah, beradu argumen dengan diri ini.
_
Apa boleh aku menghapus semua catatan itu?, menggandeng tangannya.
Pergi, bersamanya.
Di tepi pantai, memunguti sampah dan bermain bersama.
Menjadi seorang Nenek yang bahagia.


Biodata penulis
Nama : Hanif
dilahirkan pada 9 Maret 1992
Penulis adalah seorang pelajar yang kini tinggal di Kota Cirebon, beliau aktif bersama teman teman semua ikut memeriahkan pesta fiksi Indonesia
Beliau dapat dihubungi melalui akun media sosial di https://www.facebook.com/hanif.anugra/



Sesederhana Udin



                Berhubung sekolah kami adalah sekolah yang terbilang baru didaerah cibiru, maka masalah kekurangan jumlah kelas sudah bukan terlihat masalah lagi bagi kami, jadinya kami mesti rela mengikuti program penggantian ship jam masuk kelas, sebagian pagi dan sebagiannya lagi masuk siang hari.
                
               Meski bagaimanapun, tetap sekolah terasa segalanya bagiku, terbayang jika ku tidak sekolah, mau ngapain jika mesti terus-terusan dirumah? Bosan pastinya seperti Udin teman sekampungku yang mesti putus sekolah karena sejak ayahnya meninggal keadaannya cukup susuah untuk membiayai sekolahnya, bahkan untuk makan pun ia mesti membantu kakeknya mengayam hinis bambu untuk membuat bilik yang digunakan untuk dinding rumah panggung yang sudah lazim digunakan didaerah kami.

                Udin hanya anak satu-satunya ibu nining tetangga kami, dan ia tinggal bersama kakek dan neneknya yang sudah cukup renta. Ada perasaan aneh jika bergaul dengan mereka, meski kehidupannya begitu sederhana, aku begitu nyaman bila bermain dirumahnya, tidak seperti jika bermain diteman yang lainnya meski mereka hidup dikeluarga berada.
Meski hidup serba kekurangan, menurutku udin adalah teman yang begitu kreatif dalam membuat berbagai jenis mainan, meski sering ku dikesalkan oleh kenakalannya.

              Saat teman-teman marak membeli pistol air, udin membuat semprotan air dari bamboo kecil. Saat teman lainnya merengek kepada ortu ingin membeli pesawat terbang remot control, ia sudah memanjat keatas pohon yang cukup tinggi mengikatkan benang layangan dan membentangkannya menurun kebawah, yang nantinya dikaitkan kapal-kapalan dari bambu yang nantinya melucur seperti terbang jika dilihat dikejauhan, yang selanjutnya menginspirasi teman lainnya untuk bermain perang-perangan. Dan kapal buatan Udin itulah yang dianggap peasawat musuh kami.


               Pribadi Udin begitu unik menurutku, meski kebiasaan buang kakusnya sering sembaranga dikebun tetangga (karena dirumahnya belum ada toilet). Bahkan kadang jadi hiburan tersendiri, saat ada temen kami yang tidak sengaja meninjak tinja Udin saat bermain dikebun.

                Ada-ada saja tingkah polahnya, dan aku rasanya lebih nyaman saat berteman dengannya. Kesederhanaannya lebih membuat hati ini sejuk, ketimbang saat bermain dengan teman-teman yang kaya raya, bila dengan mereka yang ada aku selalu merasa terhina dan panas hati karena iri dengan mainan baru mereka di tiap harinya.


                Saat bersama dengannya, sering ku terfikir akan perasaannya. Bagaimana rasanya hidup tanpa seorang ayah? Bagaimana ia menjalani hidupnya sehari-hari tanpa bersekolah? Bukankah jika tidak bersekolah teman mainnya sangat terbatas? Tidak sebanyak temanku disekolah? 

                Pernah pula ku ikut menangis melihat ia tengah disiksa oleh kakeknya, dengan rotan bambu kecil, ia menangis meraung-raung tanpa ada yang menolongnya seorang pun, karena semua orang memang tidak ingin cari-cari masalah dengan kakeknya itu. Kakeknya galak, hingga setiap anak seumuranku pasti berlarian karena takut olehnya, akupun berani bermain dengan udin jika kulihat kakeknya itu tengah sibuk bekerja mengayam bambu atau sedang pergi mencari bambu ke kebun.
               
Ingin ku dapat berbuat lebih untuk menyenangkan perasaannya, bagiku Udin lebih dari sekedar teman bermain. Keceriaanya ikut menambah riang hariku jika saat bersamanya, keberadaannya seakan dapat menemaniku yang kurasa hidup ini tidak adil bagiku. Bila ia mendapat perlakuan kasar dari kakeknya, akupun sama mendapat perlakuan kasar adari ayahku. Jika ia tidak dapat terpenuhi semua keinginannya, maka akupun sama-sama mengalaminya yang hidup serba terbatas.

               Saat ku hendak berangkat pergi sekolah selepas azdan Dzuhur, wajahnya terdiam sekan berharap dapat mengajaknya ikut serta bersekolah bersama, lalu apa yang dapat kuperbuat oleh anak seusiaku?, sedangkan keluarga ku sama-sama memprihatinkan keadaanya ekonominya, hanya bedanya aku dan kedua saudara kandungku dapat bersekolah.
* * * *

                Minggu ini saatnya ku dapat bermain puas dengan udin, di hari minggu biasanya kami berjalan-jalan ke kebun atau sawah dipinggiran perum baru yang orang-orangnya terasa asing dimata kami.
Siang hari baru saja berlalu, kami duduk-duduk dibawah pohon lengkeng sekedar melepas lelah sehabis berjalan cukup jauh menyusuri kebun kebun singkong yang belum lama ditanami pemiliknya.

               Belum lama kami melepas lelah, tiba-tiba saja yang punya kebun berteriak-teriak sambil mengacungngacungkan sebilah golok panjang, kontan saja kami berlari secepatnya ketakutan. “Apa yang salah dengan kami?” pikirku. Belum lama ku berfikir,, aku segera tahu mengapa bapak itu begitu marah, udin ternyata beristirahat sambil memanen ketela yang belum siap panen, ukurannya masih kecil hanya seukuran jempol tangan dewasa.


“Udin..!”  ku kaget melihat apa yang terkumpul dalam lipatan kaos oblong longgarnya.
“Nggak banyak kok..” katanya mengacungkan hasil panennya sambil berlalri.
“dasar !” aku masih terus berlari secepat-cepatnya.
“haha.. ah emang pelit bapak itu”  Udin malah cengengesan


                Kami terus berlari hingga yakin bapak pemilik kebun tidak terlihat lagi mengejar kami, nafas kami masih ngos ngosan tapi udin masih cengengesan, beda denganku yang kaget dan takut setengah mati. Apalagi jiga teringat mimic wajah yang punya kebun yang terlihat begitu kesal seakan mau memotong-motong tubuh kami dengan golok panjangnya.



“kamu kenapa Dam? Kok ketakutan gitu?” Udin berhenti tertawa, mulai serius memperhatikanku.
“kamu nggak takut dengan bapak tadi yang ngejar sambil mengacungkan golok panjang?” kataku heran.
“oh haha… “ udin jadi cengengesan lagi, seakan mengejek dan itu sungguh membuatku mual jika melihatnya terus seperti itu.
“bapak itu hanya mengertak saja, toh dia takkan rugi diambil sedikit” udin berkata tenang,seakan tidak bersalah.
“tapi kenapa dia sampai mengacungkan golok segala?” aku jadi tambah heran.
“ya bapak itu memang kesal, tapi bukan kesal karena dicuri singkongnya, tapi kesal karena kita memang merusak tanaman yang baru ia tanam dikebunnya.
“tapi bukannya mencuri itu dosa?” kataku tak mau kalah.
“nah, lalu apa merusak tanaman orang juga tidak dosa?” Udin lebih sengit lagi.
“aku kan nggak tau jika tanaman yang diinjak itu emang sengaja ditanam, kamu juga nggak ngasih tau kalo tanaman itu sengaja ditanam pemiliknya..?” Aku jadi merasa bersalah.
“maaf Dam, aku pun mencuri sekedar hanya ingin mengganjal rasa laparku saja..” 
* * *

Note:
Kepada sahabat masa kecilku, maaf atas segala kesalahan,
moga kita dipertemukan lagi dalam keadaan penuh ridho dan diridhoi-Nya
aamiin


Jumat, 11 Maret 2016

titik hitam semalam

   Malam semakin larut, namun jalanan ku lihat masih begitu meriah. Kurasa suasananya begitu nyaman untuk jalan, sambil menunggu angkutan kota yang lewat ku berjalan sendiri menyusuri trotoar menuju perempatan buah batu.

   Mendekati perempatan, suasananya berubah jadi begitu sepi,hawa dingin malam semakin terasa sekarang. Naluriku berkata mesti lebih waspada, karena masih ada saja yang kena jambret disekitar sini. Meski polisi selalu berpatroli setiap malamnya menuju sini namun masih saja komplotan jambret bisa melakukan aksinya,seakan mata mereka ada disetiap sudut daerah ini.

   Dan benar saja,belum lama ku berfikir akan aksi jambret itu,sekarang dapat kulihat jelas diujung jalan kecil kawanan geng motor yang sedang berkumpul,tertawa tawa membentuk lingkaran seakan sedang menonton hiburan yang mengasikan. Entah apa yang terjadi sebenarnya, tapi lebih baik ku berjalan agak cepat meninggalkan mereka selagi mereka belum melihat keberadaanku.

   Hingga ku berjalan tanpa suara melewati mereka,kudengar ada suara wanita yang tengah menangis. Spontan ku berbalik dan ternyata mereka sedang asik mengerubungi seorang wanita yang begitu ketakutan, hingga mereka tidak menyadari kedatanganku. Bau minuman keras begitu kuat tercium sekarang, seiring ku mendekat, bukannya tidak takut untuk berurusan dengan mereka,namun suara wanita menangis minta tolong seperti itu seakan memberiku kekuatan lebih untuk berani melabrak mereka.
 Ku langsung datang, meninju pundak salah satu dari mereka,mungkin karena mabuk seketika seorang langsung rubuh tidak bangkit lagi. Kontan saja semuanya memandang marah ke arahku.

  Seorang langsung melangkah maju hendak membalas, namun ku dapat mengelak dengan mudah karena mereka memukul sambil mabuk sempoyongan. Langsung ku balas dengan tinju di dagu dan langsung roboh lagi tidak dapat bangkit.

 “Sudah cukup ! apa kalian berani buat onar di kawasan AA Ajat hah ?!” kataku membentak dengan tangan mengeraskan kepalan bersiap lagi meninju.
 Tapi entah mengapa mereka malah terdiam,lalu cepat cepat merunduk meraih kedua temannya yang terkapar seperti pingsan lalu membantu mendudukan temanya .
 “hey knapa pergi?” Salah seorang hanya bengong nggak mengerti,lalu suara lainnya membalas dengan cepat agar segera pergi.

  Seketika gemuruh motor meraung meraung memecah kesunyian malam, sekiranya ada empat enam motor langsung berhamburan meninggalkan kami berdua.
 Sekarang kulihat wanita itu terduduk masih menangis, ku mendekat mencoba membantunya bangkit. Namun dia langsung berdiri dan menunduk sambil berterima kasih .
  kami segera berjalan menuju perempatan yang sudah semakin dekat, ia sepertinya masih syok dengan kejadian barusan, dalam hati akupuh terpekur dengan kejadian aksi nekatku barusan. Karena bisa saja aksiku itu hanya nambah menambah korban baru, bukannya menyelamatkan. Namun sepertinya kami berdua memang sedang beruntung malam ini, selamat dari kejahatan geng motor yang terkenal sadis. Seakan kami sadar dapat saja kawanan geng motor itu dating membalas

 “mm, maaf kamu sekarang mau pulang kemana?” aku coba mencairkan suasana yang begitu tegang.
 “Kebun Kopi,” jawabnya singkat tanpa menoleh, seperti masih menangis.
 Beruntung, belum lama kami menyebrang jalan ByPass sebuah angkot merah datang menghampiri,lalu kami langsung naik.

  Melihatku ikut naik dan duduk disebelahnya membuat wanita itu memandang tajam kearahku.
 Sekarang dapat kulihat jelas mata sembab wanita itu, sekarang ia tengah memandangku seakan bertanya .

  “mm, arah tujuan kita ternyata sama, kujuga mau pulang ke cimahi” ku coba tersenyum, menjawab kekhawatirannya. Tapi ia terdiam lagi tanpa menghiraukanku,mungkin ia masih terlalu kaget dengan kejadian tadi.

 Akupun mengerti dan lebih memilih memandang keluar jendela sambil mendengarkan sopir yang tengah ngobrol bersama dengan rekannya dibangku depan dengan dialek orang sebrang yang begitu fasih, tidak menghiraukan kami yang hanya berdua di bangku belakang yang masih berusaha menghilangkan ketegangan karena kejadian tadi.
Jalan By Pass begitu lengang, manusia semakin jarang terlihat hanya sesekali terdengar raungan motor yang menyusul. Sesekali wanita itu kaget jika suara motornya keras seperti suara motor kawanan geng motor.

 “Kasihan sekali wanita itu” ku berkata dalam hati, wanita itu sungguh syok. 

  Dalam hati ku niatkan akan mengantarnya dengan selamat hingga ke depan pintu rumahnya, mungkin saja nanti di kebun kopi ia pun mesti berjalan cukup jauh menyusuri gang gang sepi yang mungkin saja rawan. Meski tidak ada ceritanya kawanan geng motor melakukan aksinya di gang sempit.
Sekarang kami tiba di terminal lw. Panjang, kami berdua turun untuk berganti angkot menuju kearah cimahi.
  Diangkot hijau sekarang kami tidak berdua, ada dua orang lelaki yang sama hendak pulang. Satu berumur cukup tua dan yang satunya lagi seorang bapak setengah baya membawa tas besar seperti hendak merantau atau pergi kerja ke luar kota.
Dalam hati ku bersyukur, mudah-mudahan dengan adanya mereka sedikit bisa menenangkan hati wanita wajahnya masih terlihat kusut.
Sesekali bapak setengah baya melihat ke wajah ke wanita,lalu ia melihat ke arahku seakan ingin bertanya “apa sebenarnya yang terjadi?”
Cukup lama angkot ngetem ,coba menunggu muatan agar penuh.tapi memang malam sudah beitu larut tetap saja jumlah tidak bertambah hanya kami berempat yang naik.

  “Yuk ah berangkat pak” kata bapa separuh baya mengajak sang sopir agar mulai berjalan. Meski agak ragu akhirnya sang sopir menggerakkan armada angkutannya untuk melaju meski pelan dan celingukan masih berharap ada bakal penumpang yang masih dapat ia angkut sekarang.
 “ah emang malem ya..” sopir didepan seakan bicara sendiri, terdengar mengeluh ia hanya dapat mengangkut kami berempat saja.
 “iyang sih bang, tapi mudah mudahan aja di perjalanan ada penumpang yang mau naik” bapak separuh baya itu angkat bicara lagi, seakan mengerti keluhan sang supir.
 “Iya kang, AAmiin..” sang sopir seakan termotivasi, yang tadinya mobil angkutan yang maju pelan sekarang agak cepat seakan ikut optimis akan doa sang bapa paruh baya itu.

 Dalam hati ku jadi tertarik memandang wajah bapa paruh baya itu, katanya seakan penuh kekuatan meski terdengar ringan. Sungguh bertolak belakang menurutku dengan penampilannya yang terlihat tengah berputus asa untuk hidup.

 “malam selarut ini kalian mau kemana ?” akhirnya bapak paruh baya menyapaku, aku kaget yang sedari tadi ternyata bengong memandanginya.
“eh iya,kami mau pulang.. Pak” kataku merunduk seakan tak kuasa menahan pandangan matanya yang dalam.
 “kemana ?” katanya lagi masih dengan nada berat.
 “Kebun kopi sebrang hotel pak,” entah mengapa katanya terasa berat terdengar olehku, tidak seperti kata ringan yang penuh daya dorong yang bapak itu katakan ke sopir angkutan.
 “hati hati neng, lelaki jaman sekarang bisa lebih jahat dari binatang buas” bapak itu malah bicara ke wanita sebelahku, tanpa memperdulikan keheranku. Dalam hati ku agak kesal juga kekagumanku seketika jadi berubah jadi menilai aneh dengan ekpresinya yang berubah begitu jauh dan cepat.
 “ah mungkin ia emang benar-benar tengah putus asa ..” aku bicara sendiri dalam hati.
Dan benar seperti dugaanku, wanita itu hanya menunduk saja tidak membalas. Wanita itu benar benar syok dengan kejadian tadi ternyata.
Tapi tiba tiba ia berkata cukup jelas ke supir angkutan agar berhenti, akupun ikut turun dan membayar ongkos jalan kami berdua.
 “Mari pak kami duluan,” ku pamit dan coba tersenyum ke bapa paruh baya yang tengah berbaik hati mau menasehati wanita disebelahku. Namun bapak itu hanya diam saja tidak membalas sedikitpun senyum tulusku itu.

  Kami berhenti didepan gang, dan benar saja kami mesti meyusuri gang yang sudah begitu sunyi, namun disini tidak terlalu sunyi seperti rumahku dicimahi. Home industry didaerah ini cukup banyak dan banyak pula karyawan lepas yang kerjanya malam hingga hanya sesekali saja kami melewati daerah-daerah sepi.

  “ah iya, didaerahnya rumah kakek” kataku bicara sendiri mengingat kemana kami mengarah.
 “oh kakak ada family disini ?” katanya yang lembut membuatku kaget, sekarang wanita itu udah mau bicara sekarang.
 “ya, ini dekat ke daerah kakek,sejak kecilku sering kesini saat liburan sekolah” aku tersenyum sendiri jadi teringat sendiri kenangan mas kecil.
 “oh ..” katanya sekarang terdengar lebih tenang, seketika kulihat wajahnya memang terlihat lebih segar, tidak kusut seperti tadi.

  Jika ku perhatikan wajahnya begitu anggun, dan kuyakin ia adalah wanita dari keluarga baik-baik.tidak seperti wanita kebanyakan, ku lihat dari caranya berpakaian yang begitu longgar dan rapi, jika saja ia mengenakan kerudung pastilah ia kuanggap sebagai santri yang biasa mengenakan busana muslimah dengan sempurna.
  
  Dalam hati ku heran juga,kok bisa-bisanya ia berada di jalan selarut ini hingga diganggu geng motor. Tapi ah apa peduliku, aku sendiri nggak ingin membicarakannya. Takut wanita itu jadi syok lagi mengingat kejadian suram tadi.

  Kami masih melangkah lagi dalam diam, dengan wanita ini entah mengapa ku merasa begitu canggung. Meski ia sungguh menawan tapi sedikitpun tidak membuatku berani untuk menatapnya terus. Mungkin ku pikir ia adalah wanita baik-baik, lagi pula ia pun belum mau banyak bicara sedari tadi.

 “Dari sini akang mau kemana?” katanya berat tiba-tiba memecah kesunyian.
 “Tadinya sih ingin langsung ke cimahi, tapi berhubung sudah begitu larut paling nginap dulu kerumah kakek dekat sini sambil rehat” kataku membelas dengan semangat, rasanya ikut senang mendengar dari suaranya terdengar tenang sekarang.
 “Rumah ku sudah dekat kak, saya benar-benar berterima kasih sudah menolong dan mengantar hingga selamat sampai sini” sekarang dapat kulihat matamya yang sayu menatap lurus ke arahku
 “ah nggak masalah, sudah sewajarnya menolong disaat mendesak tadi. Akupun tadi spontan aja tadi rasanya kok hehe”
 “kakak sungguh berani, menolong ku yang tidak kenal sedikitpun dengan kakak” katanya memuji.
 “siapa bilang nggak kenal? Kamu Yani anak Pak Somad kan?” kataku sekenanya, karena sebenarnya aku tidak mengenalnya sama sekali.
 “Hah? Bukan Yani tapi Fitri kak..”
 “Nah sekarang aku kenal kamu,kamu Fitri kan?, jadi wajar nolong yang ku kenal he..” dalam hati ia begitu polos, dengan mudah terpancing permainanku.
 “Hah ..?” Ia seakan bingung melihat tingkahku, namun ia sekarang dapat bebas tersenyum hingga bekas-bekas suram wajahnya hilang seketika.
 “Oke Fit, kakak pamit ya “ ku segera berbalik.
 “Eh kenapa cepet-cepet kak, nama kakak siapa? Kakak tinggal dimana?" Suara halus menahan langkahku,dalam hati berasa geer, ia penasaran juga dengan nama dan alamatku.
 “bukan apa-apa kak, Fitri mesti ngeganti ongkos yang tadi dua kali kakak bayarkan di angkutan kota..” wajahnya yang polos bersungguh-sungguh ingin ku menjawabnya.
 “Hmm, Panggil aja Abdi ku tinggal dicimahi utara kampong cidahu. Dah ya bye..” Aku langsung berbalik lagi, dalam hati ada sedikit kecewa.
  “Wassalamualaikum kak Abdi..” Fitri masih berdiri memandangku, membuatku berbalik lagi.
  “Waalaikum salam Fit…” dalam hati kecewa juga mengira ia menanyakan namaku karena ingin mengenalku lebih dekat lagi, ternyata bukan.
  “Ah iya Fit, kamu nggak usah ngeganti ongkos angkot tadi. Ku Iklash kok ..” ku berbalik lagi yang ternyata Fitri masih berdiri ditempatnya.
  “mmm, sekali lagi terima kasih kak..”
  “Dah ah, jangan terus terimakasih. Mestinya kan kita bersyukur kepada Alloh karena telah menyelamatkan kita.. benar kan? He” dalam hati ku kaget juga bisa berkata begitu, ada kata yang keluar dari mulut ini terasa begitu indah meluncur begitu saja. Dan anehnya ku merasa terpesona oleh kataku sendiri.

  Fitripun kini seakan tersadar, dan sekarang memandangku dengan berseri dengan mulutnya berguman lirih tak terdengar.

  Ku lalu segera berbalik melangkah pulang, dalam ada keinginan untuk kembali berbalik, namun sekarang sudah begitu larut dan mungkin mendekati sepertiga malam. Entah mengapa, saat didekatnya ku rasa ada suatu rasa yang sulit ku jelaskan, padahal baru saja ku berkata-kata singkat dengannya.

  Dalam hati ku jadi penasaran apa yang ia katakan,kenapa pula Fitri bicara yang tidak bisa ku mendengarnya? Hingga cukup lama ku berjalan belum juga terpikir apa yang terjadi tadi.

  Ah entahlah, sepertinya ku mesti segera pulang untuk tidur. Hingga kantuk begitu kuatnya ku temukan sebuah mushola yang tidak dikunci, entah apa yang menuntunku hingga masuk kedalamnya lalu semuanya gelap tak ingat apa-apa lagi
*********

  Kurasakan begitu kuat hawa dingin menelusup ke tengkuk, membuatku terbangun seketika. Dalam keremangan ku terbangun seketika, rasanya ada yang membangunkanku barusan, tapi ternyata disi ku hanya sendiri. terkapar di teras mesjid yang dingin tidak beralas.

  Kulihat waktu baru menunjukan pukul empat dini hari, ku segera bangun menuju jamban untuk berkemas sebelum para petugas mesjid berdatangan.

  Disini semangat untuk shalat lima waktu kurasa begitu kuat, maka setelah wudhu ku putuskan untuk shalat sunnah tahiyatul mesjid sambil menunggu jamaah yang lainnya berdatangan.

  Dalam shalat, fikiranku masih sempat terbang akan kejadian semalam di buah batu hingga ku berakhir disini. Bagaimana wanita itu menangis begitu ketakutan saat dikerubungi kawanan geng motor, hingga ku nekat menyelamatkannya dan memang ku akhirnya menyelamatkannya.

  Semakin lama semakin teringat saat ku berjalan dengannya dalam diam, saat itu memang sungguh ku tak bisa bercakap-cakap. Namun kurasa hanya satu kesan yang kurasa kuat darinya saat terakhir kami akan berpisah, bahwa ku merasa sungguh menyayanginya dan sungguh tidak ingin dia terus menangis apalagi ketakutan seperti itu.

 “astagfirulloh..” hatiku membatin, ku sadari shalatku salat ini rusak oleh lamunan yang membuatku lupa.

  Hingga ku bangkit kembali setelah sujud, dengan ragu apakah tadi rakaat pertama atau justru rakaat kedua? Bagaimana jika ku shalat sunat dengan tiga rakaat?.

  Lama ku terdiam menyadari ada yang berubah dalam sembah sujud ku kali ini, entah bagaimana ku dapat merasakannya kembali apa yang pernah membuatku begitu menikmatinya.

  Hingga matahari mulai memberi warna kuning akan hari dalam pandanganku, akhirnya ku mesti melupakan apa yang hilang saat pertama bangun. Sesuatu yang hilang yang sulit ku gambarkan.
*********

  “Jalanan ku lihat masih sama hingga sekarang, suasana begitu gersang dan sungguh begitu acuh.Aku berjalan sendiri saat ini, bernaung dengan panasnya mentari yang seakan acuh tidak mengganggap peluhku berjalan dibawahnya.
Sering ku bertanya sendiri, sebenarnya mereka semua hendak kemana.kulihat mereka jelas menempuh suatu arah hingga berisi keras saling susul menyusul bahkan tidak jarang terjadi kecelakaan karena ingin cepat sampai menuju tujuan. Sedangkan aku merasa tak tentu hendak mengarah kemana, kurasa semua arah sama, yang kucari hanya arah yang dapat membuat hati ini nyaman saat melangkah, entah kemana ku melangkah? aku selalu bingung memikirkannya.

  Tapi setidaknya aku masih cukup beruntung, setidaknya sekarang mengetahui apa yang mesti ku lakukan. Setidaknya ku tidak terlalu bosan menjalani waktu hidup ini, setidaknya ku dapat melakukan suatu aktivitas meski ku merasa kehilangan arah hidup.
Hingga ia hadir saat menangis, ku merasa mendapatkan arah kemana diri ini mesti melangkah. Ya ku harus menemuinya, dan segera menghapus air matanya hingga senyum secerah mentari dapat turut menghangatkan dan menyinari gelapnya hati ini. Kurasa..”

  Benarkah dengan arah yang kupilih saat ini? Entahlah, kurasa pilihan ini hanya keinginan jiwa
******

Selasa, 08 Maret 2016

Jihad Ahlaqul Qarimah

Sebuah crita Jihad Ahlaqul karimah seorang istri

untuk sahabatku yang kangen ayah,


  Malam itu, seorang ayah hanya memandangi istri beserta kedua anaknya yang masih kecil,, mereka bertiga terlihat begitu lelapnya,,
  Ada rasa heran setiap kali melihat wajah istrinya yang seakan damai diasuh mimpi,, hmm, mereka korban kemalasan ku dullu, tapi knapa aku yang gelisah,,
  Berkali kali ia teringat lagi dengan tagihan tadi sore yang entah bagaimana membayarnya,, sesekali teringat beras untukk esok yang bagaimana membelinya,, berkali kali ia membayangkan tangis anaknya yang akhir-akhir ini selalu terdengar setelah adzan shubuh..
ya Alloh.. hatinya menjerit, meronta sekadar meminta alasan agar aqalnya terjawab akan masalah ekonomi,,yang bgtu komplek saat ini
  Ia pun teringat lagi, kisahnya tadi siang, semenjak bberangkat pagi dengan berjalan, menyusuri ruas-ruas jalan, berjalan begitu jauhnya dengan keadaan lapar,,
semua teman sekolahnya dulu ia temui lagi, namun saat ini memang hampir semua kesulitan mencari makan,, temannya pun malah mengadukan kegelisahan-kegelisahan yang intinya malah perut,, dan banyak pula yg bercerai karena alasan ekonomi,,
  Mendengar cerita teman yg berhasil ia temui ternyata sama,, bahkan ada yang lebih parah ia memutuskan untuk pulang, ia kan menghibur istrinya saja,, ;
"mudah-mudahan dengan kesabaran Alloh kan memnolong dengan rezky yang tidak disangka sangka,," begitu ia merangkai kata untuk menghibur istrinya..
namun tetap bgtu kuatnya rasa tdk percaya menggoda,,dan kuat berjalan menghadapi kesulitan ini.., setidaknya ku tetap harus ada yang dapat ku bawa kerumah,  apa saja yang dapat ku bawa untuk orang dirumah,, setidaknya untuk makan hari ini,, tapi tetap ia hingga pulang kerumah tidak membawa makanan..
  saat itba dirumah ia mengucap salam lemah,, namun tetap mencoba tersenyum pada istrinya,,
"gimana yah ?" istrinya bertanya..
" ..." ayah tidak dapat menjawab hanya geleng lemah,,
"tak apa mungkin nanti malam ada rezki mengejar ayag,, karena ayh tadi mencari rezky,," istrinya tetap menyemangati..
 " ah kamu ini,," ia melangkah lemah ke kamar, mengganti baju karena baju yang dipainya sudah bersimbah peluh.."
  "yah ni minum dulu,,"
"lho ini minuman dari mana??" ayah marah mengira kurang baik pada istrinya karena ia tahu betul gas di dapur sudah ia jual tempo hari, terpaksa buat berobat anaknya ke puskesma,,
"ada deh minum aja dulu nanti umi cerita,," dengan tersenyum istrinya pamit ke dapur,,
 ternyata bukan hanya air saja yang ia dapat, tapi istrinya cerita, tabung gasnya pun ada, malah sekarang ada isinya,,
gini yah ceritanya, lalu istrinya mulai cerita mengiringi suaminya yang tengah makan dengan lahapnya,,:
ceritanya ada tetangga yang punya 2 tabung gas (3kg) membawanya kerumah, ia ingin menjual. lalu istrinya bertanya knapa dijual? (pdhal dalam hatinya memang tidak pernah akan beli, toh miliknya sendiri pun sudah ia jual kemarin,)

"Iya buk,, anak saya pengen tas rajutan wol yang lagi musim saat ini, wah bu sulit nyarinya kmana, harga nyapun lumayan kalo ditoko, tapi cukup lah kalo tabung ini kejual, "
"Oh,, nah lalu ibu nati masak gimana?" istrinya kembali bertanya, kasian juga mungkin ibu ini nasibnya sama dengan keluarganya,, tapi sebabnya lain, ini mungkin kehendak anaknya yang nggak bisa ditolak,,
"nggak papa,, ada satu lagi.."
" hingga akhirnya ia menukar hasil rajutannya bulan lalu, dan ibu itu setuju, asal anaknya memang suka,,
saat anak melihat rajutan itu, ternyata bukan hanya suka ia malah pesen lagi, tapi untu kantong handphone, lalu memberikan uang Rp. 29ribu,,
"saya tunggu ya bu.." kata anak itu dengan riang,,
:ya,, ntar sore juga beres,, jazakaLLOH nya dek, ibu,,"
""Iya justru sy yang terima kasih,, saya nggak perlu jauh-jauh ke toko, tapi ada di tetangga sendiri,,"
"Setelah selesai ia langsungmemberikan kpd anak yang pesen kantung handphone tadi

hingga ia pulang dan mendapati makanan hangat beserta tabung gas yang baru,,
"SubhanALLOH,,ia teringat lagi,,kejadian td sore,,
ia punjadi teringat saat bulan lalu membeli benang rajut dengan bgtu malas, gimana nggak malas,? bukankah kesenian spt iru jarang pembelinya,, apalagi prosesnya lama,,
tapi saat ia buntu,ternyata keinginan istrinya untuk merajut jadi rezky tersendiri yang menjadi sebab keluarganya dapat makan,
hingga tak terasa  tak terasa waktu waktu terus bergulir,, terus bergulir berjam jam semenjak pukul 23:00 hingga sang ayah tertidur sendiri,,disamping istrinya dan kedua anaknya,, ...
  * * *

"Astagfirulloh,," ia kaget,, sekan terhenyak ke dasar lantai ia bgtu kaget, melihat jam dingding tengah menunjukan jam 2:45 dini hari,,
 Ia menoleh kepada istrinya yang ternyata sama telah terbangun dan tersenyum kpdnya..
"Ayah knapa..? dah isya.." istrinya lembut

"kaget, rasanya barusan seperti tidur sebentar bget, tp ternyata sudah hampir jam 3 dini hari,,"
"wah ayah tidur nya nggak niat ya..(berdo'a))?" istrinya berkata,,
"ya,, "
"hmm, masih untung yah dibangunkan kembali,,:
"maksunya,,?" nadanya hearan
" Iya meski ayah tertidur dalam keadaan tidak ingat Alloh masih memberi kenikmatan lalu di bangunkan kembali, memberi kesempatan agar lebih banyak mengumpulkan bekal,, kelak ke akhirat
meski ayah lupa,, tapi Ia tidak alpha, ia masih memberikan nikmat tidur kpdnya,, ayah td nggak teringat Alloh kan hingga tertidur bgtu,,?
"iya mi,,"katanya mengakui,,

dalam hati ayahnya berguman lagi,bukan hanya iru istriku,,

tadi pun saat berangkat dari rumah tidak mengingat Alloh, padahal rezki yang diniatkan untuk dicari Alloh saja yang memegangnya..

tadi saat menyusuri jalan, aku tidak teringat kpd Alloh,hanya teringat bagaimana mendapatkan buat makan, padahal Alloh memberi makan dikala mahluknya lapar,, iia hanya teringat kepada sepeda motornya yang dicuri tempo hari, jika bukan karena pencuri aku masih dapat bekerja jasa nagkutan (ojeg), dan tidak merana berjalan bila bepergian, hanya dendam saja setiap teringat motor kesayangannya,,

dan tadi saat ku pulang, lalu engkau istriku, membawakan ku air, pelepas dahaga, aku lupa kepada Alloh, bahwa ia tiada pun Alloh pasti menberikan rezki kpd keluarganya, karena ezky Alloh yang mengaturnya,, dan kita hanya bisa mengusahakannya,, malah berfikir engkau mengemis kpd keluargamu, sesuatu yang merendahkan mukaku dihadapan keluargamu,,padahal Ia memberkan makan melalui kerajinan mu belajar merajut semenjak dulu,,

dan saat menikah bersama mu, aku lupa bahwa Alloh selalu memberikan yang terbaik, bahwa ia telah memberikan istri yang gtu sabar dan tidak pernah mengeluh, malah istrinya meminta maaf. kaena pernikahan kuliahnya jadi bubar, kaena kedua orang tua memang telah berjanji di usia kesekian akan memnikahkan dirinya dan istrinya,,

Istriku aku lupa,, kepada Alloh, dan kepada karunia darinya Yang tidak mungkin didustakan
(belahan hatinya)

"Yah knapa" istrinya menyadarkan perenungannya,
"Eh,, iya.." seketika ia memandang istrinay, bertambah cantik saja ia memndang istrinya, dan ini salah satu yang dilupa, ternyata istrinya lebih cantik dari semua pacarnya dulu, hanya pertama bertemu tidak terlihat karena asing

subhanAlloh,, hatinya bergetar,, lalu menciuni kening istrinya..seketika,,

"eh eh yah sabar dulu, si dede baru 3bulan,," wajah istrinya terlihat memerah,,
"ah iya.." hatinya teringat lagi istrinya pandai menghibur, mencairkan suasana dan
istrinya pandai mengingatkan kpd Alloh, nikmat yang sebenarnya senantiasa ia rindukan semenjak dulu

dan,,,,
aku lupa ending kayak gimana,,

udah ah

------------------------
10:10 malam
3 juni 2011
by
janmenulis@gmail.com

Rasa Yang Sulit Ku Mengerti

--Rinduku terbiaskan debu-debu yang kelam saat ia menjauh dariku, entahlah apa yang ia pikirkan tentangku. Hatiku tiada sangsi bahwa ia pun menyayangiku, lalu.. mengapa ia pergi ??-- 8 Juni 07. 


   Awal malam  itu ku berkunjung lagi ke rumahnya, sekadar untuk menyampaikan  pesan balasan dari teman sekantorku. Sebetulnya ku begitu malas jika hanya berfikir untuk menyampaikan pesan-pesan si Ardi.
   Tapi kesannya jadi jelek jika menolak, padahal letak kontrakanku dari rumah Andini memang begitu dekat. Nanti dikata naif lah, dikata sok alim lah, padahal kan mending dibilang sok alim daripada sok hianat.
   Bila ku lihat mereka itu sebagai sepasang kekasih?, kulihat mereka tiada ikatan seperti suami istri. Tapi bila dikata hanya sebatas teman..?, kurasa mereka terlalu terikat.
   Loh aku jadi ikut campur urusan mereka sih? Lha jelas ikut campur lah, mereka duluan kok yang selalu nyuruh aku jadi mediator komunikasi diantara mereka. Ya meski hanya seorang penyampai surat.
   Tidak seperti biasanya penyambutan Andini kali ini terhadapku, meski ia tetap dengan senyumnya yang lembut, tapi binar-binar matanya yang khas itu kini terlihat meredup oleh sesuatu yang pastinya aku sendiri tidak tahu.
   Aku sendiri dapat melihat pipi Andini yang baru kering dari air mata. Biar serapih mungkin ia menyembunyikannya dari ku tapi mata yang merah dengan perubahan sikapnya itulah meyakinkanku bahwa kini ia sedang di rundung suatu masalah.
   Kesedihannya kini semakin jelas saja saat Andini membaca surat yang baru ku bawa. Andini tidak langsung menyiapkan secarik kertas untuk membalas seperti biasanya, tapi ia malah menyandar lemah ke kursi, sembari memperlihatkan isi suratnya kepadaku..


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - - - - - - - - - - - - - -
Assalammualaikum.. Andini sahabatku..

   Ku temukan dalam suatu riwayat yang terpercaya, bahwa betapa banyaknya hubungan yang begitu dekat di dunia ini, berubah menjadi suatu hubungan yang sangat buruk kelak di akhirat. Karena hubungan yang terjalin itu tidak sejati, karena bukan ridha Alloh tujuannya.
   Saat di dunia semua para kekasih berusaha membuktikan ketulusan dan kemurnian perasaannya, tapi terbukti di akhirat cintanya itu palsu dan hanya karena nafsu syahwat semata.
   Mereka yang saling menyayangi di dunia menjadi saling menyalahkan diakhirat, rasa sayang itu seakan tidak pernah terjadi dan mereka hanya saling mencaci dan memaki hingga tiba di depan  pintu neraka.
   Andini..,
   Tentu seorang kekasih yang sejati itu tidak ingin orang kesayangannya celaka, karena keinginan pribadinya.
   Dan tiada cinta yang diselamatkan Alloh kecuali cinta atas dasar karena-Nya, dengan suatu ikatan yang kokoh yakni pernikahan.
   Saat ini ku sadar telah membuat suatu kesalahan besar terhadapmu, dengan kelancangan sikapku dan perasaanku, padahal kita tidak meniatkannya kearah pernikahan.
   Bila kita memang bena-benar serius ingin bersatu, sehidup-semati, mengapakah kita tidak langsung saja menikah?,dengan menerima segala keadaan kita masing-masing?.
   Din.., maafkan aku. Aku memang tiada berdaya mengusahakan yang terbaik saat ini.
   Tapi, setidaknya aku dapat mengambil suatu keputusan yang terbaik untuk masa depan kita kelak di akhirat.
   Biarlah saat ini kita berpisah sejenak di dunia fana ini, tapi kita berbahagia bersama karena keselamatan di akhirat yang lebih kekal.
   Andini..,
   Mungkin kita sulit menerima kenyataan ini, tapi percayalah!. Bahwa kita mampu melewati penantian yang sementara ini, asal kita yakin dan meminta kekuatan kepada Pemilik sumber dari segala kekuatan.
   Andini semua akan berjalan seperti adanya, asal kita mau lebih kuat lagi menghadapi semua ini.
   Percayalah Din..
wassalamualaikum..
                                                                           (Ardi)
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - --

   “Lho Din ?, bukannya ini bagus! Hubungan kalian jadi jelas terikat tali pernikahan nantinya (jadi halal tidak haram dan samar lagi)..” seketika saja ku nyeletuk, dalam hati ku senang bila mereka menyudahi pacarannya dan tidak lagi harus jadi mediator diantara mereka.
   “Tapi ibuku..”Sejenak mata sembabnya melihat dalam kearahku, lalu merunduk lagi menyembunyikan air mata yang tertumpah itu.
*  *  *  *

   “Ndin, benar kamu rela menuruti keinginan ibu?” malam itu ibu Andini berkata lirih di samping Andini yang terbaring lemah.
   “Memang kenapa bu? Apakah ibu ragu Dini ingin menjadi anak yang berbakti?” Andini hanya tersenyum menanggapi pertanyaan ibunya yang kerap terdengar semenjak Ardi berhenti mengirimkan pesan-pesannya.
   “Bukan begitu Ndin, hanya ibu melihat kamu begitu berat jika harus berpisah dengan Ardi” Ibunya mengusap keringat-keringat lembut di kening Andini.
   “Bu.., bukankah itu keinginan ibu terhadap Dini?” Andini berkata lirih.

   Ibunya hanya diam mendengar jawaban Andini seperti itu, seakan kini alasannya menghalangi Ardi dari anaknya sangatlah tidak beralasan.
   Tapi kenangan-kenangan dulu akan perlakuan ayah Andini terhadapnya, membuat ia harus tega menolak Ardi. Karena latar belakang Ardi dalam pendidikannya yang mirip dengan ayah Andini.

…
  “Bijaksana seseorang itu terlihat dari ilmunya, dan ketinggian ilmu itu tergantung dari lamanya jenjang pendidikan orang itu sendiri” Ibu Andini teringat lagi alasan mendiang kakek Andini yang tidak merestui pernikahannya dulu.
   “Cukuplah ibu yang merasakan pahitnya karena tidak menuruti pepatah itu” ibu Andini berkata dalam hati.
…

   Sesekali ibu Andini menoleh kepada Andini yang kini tengah tertidur, lalu berganti memandangiku, dan terdiam sejenak seakan ada bayang-bayang didepannya yang belum dapat ia mengerti.
   Kisah masa lalu yang terasa sebagai sebuah bagian hidup yang kelam dan sulit untuk pupus dari ingatan.
   Kisah masa lalu yang sering menghantui masa yang tengah dijalani dan terus berpengaruh ke masa depan, bila begitu kapankah masa yang benar-benar baru akan dimulai?, padahal segala sebab akibat telah terjadi karena berguru kepada masa lalu itu?

   “Di, Ardi..,” Andini mengigau hingga memecah lamunannya akan kisah-kisahnya yang lalu itu, aku pun tersadar yang sedari tadi jadi ikut terdiam seakan terhanyut raut muka ibu Andini yang sendu.
   “Ndin, Ndin..!” Ibu Andini hanya bengong dan memandangiku, aku pun kaget berusaha menyadarkan Andini yang keningnya kini semakin panas saja.
   “Bu, maafin Dini..” Andini terbangun mendapati ibunya tengah terisak di sampingnya.
   “Lho kenapa Ndin..? barusana kamu memimpikan Ardi ?” Ibunya makin khawatir akan putrinya yang paling besar itu.
   “Dini masih belum mengerti maksud baik ibu, kenapa ibu menolak Ardi sebagai menantu?” Kini mata Andini tidak sanggup lagi menahan luapan air matanya.
   “Ndin, ibu hanya ingin kamu bahagia kelak, dengan mendapat suami yang lebih terpelajar dan mapan” Ibunya pun mulai menangis melihat Andini seperti itu.
   “Memang seorang wanita itu untuk apa menikah bu?” Tanya Andini agak hati-hati sembari cepat-cepat mengusap air mata yang semakin membajiri pipinya.
   “Kita menikah untuk ..?” ia bingung tak menyangka anaknya bertanya seperti itu.
   “Kita menikah ya untuk kebahagiaan kita Ndin !?” Ibu Andini kali ini agak keras tetap berusaha membuat Andini mempercayainya.
   “Bila kita menikah untuk itu, mengapa banyak orang yang bercerai? Berarti mereka melepaskan kebahagiaan mereka sendiri” Andini berkata lebih hati-hati.
   “Bila bercerai itu yang terbaik? Apa boleh buat, kita harus rela mengorbankan kebahagiaan kita..” Kali ini ibu Andini berkata agak ragu.
   “Berarti kebaikan itu memang lebih penting ya bu?” Andini tersenyum lemah memandang ibunya.
   “Itulah bu, mengapa sebelumnya Andini menerima lamaran Ardi tempo hari sebelum Dini meminta restu kepada ibu, ..”
   “Memang apa kebaikan yang terasa oleh mu dari Ardi ?!” Belum selesai Andini berbicara, Ibunya langsung memotong.
   “Dini mendapat pengetahuan tentang agama yang selama ini hanya pelengkap identitas saja. Bahwa Islam itu begitu menghormati seorang wanita, hingga Dini mengetahui jalan untuk dapat menjadi wanita paling terhormat, menjadi wanita paling bahagia Bu… Dan Dini sadar bahwa itulah yang dini butuhkan selama ini” Andini mulai lapang berbicara kepada ibunya.

   Sekarang ibu Andini terdiam, ia menyadari pengasuhan terhadap anaknya memang terlalaikan olehnya karena aktivitas pekerjaan sehari-hari di kantor.
   Ibu Andini teringat lagi kehidupan anaknya yang jauh berbeda dengan keadaannya sekarang, ia teringat lagi Andini dulu yang sering melawannya, jarang di rumah, sekolah tidak menentu, dan matanya selalu terbakar api kemarahan terhadapnya. Tapi sekarang semuanya itu dapat berubah dengan ajaib.

   “lalu.., mengapa kamu sekarang jadi berpakain aneh seperti itu ?” Ibu Andini memegang gamis longgar dengan tudung lebarnya.
   “Inilah salah satu syariat Islam yang melindungi kehormatan wanita, sehingga kita tidak seperti barang pajangan di etalase yang semua lelaki dapat melihat kemolekan tubuh kita, sekaligus menutupi keburukan dari diri kita” Andini senang ibunya bertanya seperti itu.
   “Percayalah bu, Pencipta itu tentu lebih mengetahui apa yang terbaik bagi ciptaan-Nya sendiri, ketimbang apa yang di ketahui oleh mahluk yang diciptakan-Nya.” Andini memegang tangan ibunya dengan peneuh hormat dan kasih sayang, berharap ibunya mendapat hidayah dari ALLOH Subhanahu wa ta’ala.
   “Coba tanya dia, mungkin ibu bisa lebih mengerti..” Tangan lemah Andini menunjukku, sontak seketika ibunya pun memandangiku.
   “Lho..?” Aku hanya tergagap menepis pandangan mereka berdua yang kuat akan kenangan pahit.
   Ya ALLOH.., apa aku bisa menjelaskan ? Padahal aku sendiri seakan berat untuk merelakan Ardi. La haula wala quwwata ila biLLAH..
*   *   *   *

   Sore itu Andini datang ke kontrakanku yang hanya terhalang dua rumah dari tempatnya.

   “Sebelumnya Ardi hanyalah berniat mengajaku lebih memahami agama ku sendiri, tidak lebih dari itu..” Andini sore itu menjelaskan  maksud Ardi yang sebenarnya.
   “Lalu mengapa ibumu melarang Ardi untuk berkunjung?” kataku belum mengerti.
   “Itulah letak kesalahpahamannya..” Andini menunduk.
   “Ibuku, termasuk aku sendiri salah mengerti akan sikap Ardi yang begitu baik dan sering berkunjung kerumahku” Suara Andini lirih seakan menyesalkan.
   “Ketika itu ibu menyangka Ardi menyukaiku, dengan menanyakan semua indentitas Ardi, tinggal dimana, lulusan mana, kerja apa, dan ..entahlah apa lagi” Andini terdiam.
   “Salahnya akupun jadi berharap padanya, meski Ardi tidak pernah menyinggung sedikitpun tentang pernikahan” Kulihat Andini sekarang wajahnya jadi memerah.
   “Karena perasaanku yang tidak tertahankan, akhirnya saat itu kuberanikan diri untuk mengutarakan perasaanku meski sangat  malu, Ardi pun menerimaku dan berjanji akan mendatangi rumahku untuk melamarku” Andini sedikit tersenyum.
   “Tapi diluar dugaan, ternyata ibuku langsung menolak Ardi karena pekerjaan Ardi yang menurut ibuku kurang baik, padahal saat itu orang tuanya sudah baik-baik datang menyampaikan ..” Andini terdiam lagi.
   “Saat itu perasaanku benar-benar kalut tidak menentu, hingga..”
   “Hingga kenapa Din?” ku semakin penasaran.
   “Hingga aku tak sadar mengajak Ardi untuk kawin lari saja, disitulah permasalahannya semakin runyam saja.” Mata Andini berkaca-kaca.
  “Ardi kaget, katanya aku terlalu diburu nafsu. Ardi tetap berisi keras harus mendapat restu ibuku, karena menurutnya ibuku begitu hanya karena belum faham” Air mata Andini makin menderas.
   “Jika begitu Din, kamu tinggal membujuk ibumu saja kan?” Kataku mencoba memberi solusi.
   “Tapi gimana caranya? kamu tahu sendiri ibu itu begitu keras kepala” Andini menatapku tidak berdaya.
   “hmm.. Din, menurutmu bagaimana Ardi dapat mengubah sikapmu hingga seperti saat ini? padahal Andini yang dulu ku kenal itu begitu tomboy dan benci laki-laki” Aku spontan tersenyum.

   Andini termenung, ia sadar ia mengalami perubahan setelah bertemu Ardi. Ia tersenyum-senyum pikiranya menerawang jauh ke belakang.

   “Kamu benar Min, mungkin ibuku saat ini sama sepertiku yang tersiksa oleh pandangan-pandangannya sendiri” Andini memandang kosong.
   “Tapi Min, dalam pesan akhir-akhir ini Ardi seakan ingin memutuskan saja hubungan yang telah jauh terjalin, karena sejak saat itu Ardi tidak pernah lagi menghubungiku” Andini mengusap air matanya.
   “mungkin itu hanya perasaanmu Din, dan ..” Ku diam rasanya kelu jika harus mengatakan dengan tegas.
   “Dan apa Min ??” Andini menatapku penasaran.
   “Dan menurutku kamu tidak perlu terlalu berharap terhadapnya, bukankah jodoh itu ditangan ALLAH Swt ?” Kataku agak hati-hati, dan sekuat tenaga ku tahan kecemburuanku yang rentan menodai akan kebenaran yang semestinya ku sampaikan.
   “Yah Ardi pun pernah bilang, ALLAH pasti lebih memahami perasaan hamba-Nya, tapi ALLAH pun Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Mungkin apa yang buruk menurut kita itu adalah apa yang terbaik menurut ALLAH, juga sebaliknya” Andini berkata seakan melengkapi perkataan ku.
   “Menurutmu apakah Ardi memang benar-benar akan menepati janji?” Ku berkata tiba-tiba dengan sendirinya, percik-percik harapan dan cemas terus menderaku.
   “Aku yakin Min, ku yakin ia akan menepati janjinya jika aku mendapat restu ibuku” Andini optimis.
   “Nah jika begitu, saatnya kamu menyampaikan apa yang disampaikan Ardi terhadapmu, terutama tentang kaidah-kaidah tauhiduLLAH” Ku tepuk pundaknya menyemangatinya, meski rasa kecewa hati ini tidak dapat ku pungkiri .
   “Yah mungkin begitu seharusnya.,” Andini tersenyum lirih.
   “Memang begitu, Ardi seakan  mengujimu apakah apa yang disampaikannya benar-benar menjadi suatu keyakinan kuat terhadapmu. Karena jika seseorang yang berkeyakinan kuat itu tidak mudah terpengaruh justru jadi berpengaruh dan mempengaruhi.” Ku terus menyemangatinya, Andini hanya tersenyum saja menatapku.

*   *   *   *

   Matahari belum sepenuhnya muncul di ufuk timur, sinarnya yang lembut mulai menghangatkan hari yang sebelumnya dingin oleh dekapan malam.
   Saat-saat libur seperti ini memang begitu nyaman menurutku, sesudah shalat subuh ku bisa duduk santai di teras kontrakan hingga bertemu sang mentari dengan khasnya udara bumi yang sejuk dan segar di pagi hari.
   Liburan hari ini benar-benar sejuk terasa, karena tidak gerah oleh surat-surat Ardi yang mesti harus ku sampaikan kepada Andini ataupun dengan kisah-kisah konflik antara mereka berdua.
   Sudah sebulan ini Ardi tidak titip surat buat Andini, begitu juga dengan Andini sekarang tidak membahas perasaan hatinya yang heboh itu.

   “Apa mereka nggak jadi nikah ?, atau malah udah nikah ?..” Tiba-tiba ku jadi kepikiran kelanjutan kisah mereka.
   “Ah kok aku jadi ikut campur seh?, pasti mereka kasih info untuk urusan sebesar itu”

   Air teh manis yang hangat ku minum lagi agar hangatnya kembali terasa dalam jasadku, dengan nyanyian-nyanyian kecil ku ikuti nada musik yang lembut di radio.
   Ku pejamkan mata agak lama sambil ku hirup kuat-kuat udara yang segar itu, saat mataku ku buka, “astagfiruLLAH !!” aku kaget, karena ia datang dengan Tiba-tiba ..

   “Assalamualaikum Ukhti..”Ardi tersenyum renyah.
   “Ardi..!” Aku setengah teriak, kaget melihatnya seketika tengah tersenyum yang mungkin sedari tadi ada di hadapanku.
   “Kamu ngapain merem-merem sambil mengembangkan hidung kayak gitu ? Ardi hanya cengar-cengir, wajahnya terlihat cerah berseri-seri.
   “Sejak kapan kamu ada disitu?” Nada ku agak tinggi,kaget campur kesel juga
   “He he, maaf non.. Kaget yah?” Senyum Ardi makin melebar, cengengesan.
   “Ya iya lah! Dateng kok tiba-tiba”
   “Iya iya, sekali lagi maaf Min” Ardi memandangku yang masih dengan senyumanya.
   “Sudahlah, nggak usah dibahas lagi” ku coba menetralisir wajah merahku.
   “…” Kami jadi hening, terdiam.
   “Sebentar ku buat kopi” Aku pamit ke dapur.
   “Eh min, nggak usah. Aku hanya hendak bicara sebentar..” Cegah Ardi seketika.
   “.. Ada apa Di ?” Ku lihat Ardi kali ini hanya diam merunduk.

   Ardi terdiam kembali, kulihat wajahnya tetap merunduk seakan sedang mencari suatu kata yang hilang.
   Ardi seketika memandangi ku, lalu ia langsung berpaling memandangi mentari kekuningan yang sekarang hampir terlihat sempurna.
   Entah kenapa hatiku jadi gusar tidak menentu, berdegup seakan sejuknya pagi yang bergulir sekarang tidak terindra oleh indraku.
   “AstagfiruLLOH..” Hatiku berkata, hati ini seakan menolak akan perjuampaan ini, seakan masa dulu yang kelam hendak menjajah kembali.

   “Ehm !, maaf Di, sebenarnya ada apa? Eh ya, gimana kabar Andini ? sehat.. ?” ku coba cairkan suasana, sekaligus hendak mempersingkat pertemuan ini.
   “eh Andini ?, baik..” Ardi tersenyum.
   “terus.. ?!” Ku terus desak ia, karena jika tidak begitu bisa sampai seharian ini ku menungguya berbicara, dan itu bukan sesuatu yang baik menurutku.
   “Be- begini min, minggu depan aku berencana melamar Andini kembali, insyaALLAH..” Ardi terdiam menunggu responku.
   “BarokaLLAHu laka ..” Belum sempurna ku berdo’a.
   “Ta- tapi, Andini tahu bahwa sebelumnya aku berniat padamu” Merah padam sekarang muka Ardi.
   “Memang kenapa? Aku yakin Andini mengerti” Entah mengapa hatiku seakan memanas.
   “Andini ingin lebih yakin bahwa aku benar-benar memilihnya” Sekarang Ardi sungguh memperhatikanku.
   “Ia mengetahui bahwa sebelumnya kita pernah berencana untuk menikah”
   “Namun karena saat itu aku bukanlah seorang muslim kamu tidak bisa menerimaku”
   “Dan sekarang aku telah memilih Islam, Andini heran mengapa kita tidak menikah ?” Ardi berkata hampir tidak terdengar.

   Ya ALLAH akhirnya pendaman-pendaman jiwa ku harus terbongkar juga, perih ini memang sudah seharusnya ku akhiri, dan tiada yang setara dengan ridha ALLOH, hatiku akan semakin sakit jika tidak mengambil suatu keputusan yang tegas terhadap perasaanku sendiri, astagfiruLLAH ..

   “Di, saat itu aku takkan pernah bisa menerima mu, Karena Dien Islam tidak menghalalkan pernikahan itu..
   Dan sekarang kamu telah terikat komitmen dengan Andini, meski telah memeluk islam, sedang aku pun terlalu malu untuk mengajakmu menikah. Jadi tetap saja aku tidak layak bagimu
   Memang rasa ini sulit di mengerti dan sulit mengerti kita, yang terpenting menurutku kita sudah mengerti mengapa kita memilih Islam, dengan penuh kesadaran bahwa hanya Islam jalan terbaik untuk dunia dan akhirat. Itu lebih membahagiakanku dari pada menerima lamaranmu, sungguh..
   Semuanya telah terjadi, tak perlu merubah rencana kalian yang hampir terlaksana, hanya ALLAH saja yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi Hamba-nya”

   Ardi terdiam sesaat, sedang aku harus berusaha sekuat-kuatnya untuk menjaga perasaanku.

   “SubhanaALLAH.., pagi ini benar berkesan menurutku. Aku takkan lupa, ..”
   “Kamu harus dateng yah ke pernikahan kami, setelah itu mungkin kita tidak ketemu lagi”
   “Lho kok gitu ?”
   “Rencananya kita pindah ke perkampungan, nyari suasana yang lebih sehat”
   “Oh gitu, disini juga bisa menyehatkan lho kalo kita jadi jalan hidayah bagi seluruh masyarakatnya..”
   “semoga ..” Ardi tersenyum kecil.
   “Assalamualaikum” Ardi pamit dengan senyuman yang masih terbawa.
   “Waalakumussalam wa rahmah..” ku lihat Ardi meninggalkanku dengan gontai, meninggalkanku untuk dapat bertemu kelak, suatu saat yang semuanya berkumpul tidak berdaya dihadapan keadilan Tuhan-ku Yang Maha Adil.
   Biarlah semuanya berjalan dengan apa adanya, dengan ke-Bijaksanaan-Nya. ku yakini. Pasti.., pasti ! ini yang terbaik bagi kita.
   Ataupun ini adalah suatu cobaan yang begitu berat terhadapku ?, tidak bila ku dapat mengikuti arahan Tuhan-ku Rabb semesta alam…

   “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, dan harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (syurga). Katakanlah, ‘Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian?’ Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Dan, (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah. Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu), orang-orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka. ‘(Yaitu), orang-orang yang sabar, benar, tetap taat, menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (Ali-Imran: 14-17) 

*   *   *   *
*Cimahi, 11Des07 04:14.
 janmenulis@gmail.com

Senin, 07 Maret 2016

Pekerjaan Sang Khalifah

Pekerjaan Sang Khalifah


   Mentari nampak begitu menawannya, jika ku ukur dengan kasat mata baru sepenggalan tombak ia terbang.
   Seperti biasanya, saat pagi hari ku hanya duduk-duduk bersama kertas dan pena (seringnya hanya bengong). Ingin sekali rasanya ku melakukan sesuatu yang berguna, terlebih untuk perutku sendiri yang kian hari kian memaksa.

  " Tapi apa yang ku dapat ?, jika hanya ada ide-ide mentah saja yang melayang-layang dikepala? apa yang bisa ku makan ?" Hatiku membatin.

   Hatiku bertambah kerdil saja, saat melihat gerombolan semut dihalaman depan yang begitu bersemangat mengangkut bahan-bahan makanan ke dalam sarang. Lalu ku lihat pula sepasang kumbang yang dengan lembutnya menghisap madu bunga yang segar khas pagi, mereka begitu bersemangat menyambut pagi yang mulai menghangat oleh sinar mentari. Bahkan burung pun giat mencari makan dengan diiringi nyanyian-nyanyian indah yang menutupi anggapan yang melihat bahwa mereka sedang mencari makan, dan aku ?.
   Yah semua yang kudengar dari tamu-tamuku dipagi hari, membuatku semakin malu dan malu. Padahal kita 'kan mahluk yang paling sempurna dibandingkan mereka semua ?, malah ada yang bilang manusia itu wakil kepeminpinan (khalifah) di Bumi Sang Pencipta. Coba mereka bisa ngomong.., kan bisa diskusi atau ngasih masukan mungkin ?.. (Ah ada-ada aja neh ku mikir !).
   Tiba-tiba..,

   "AstagfiruLLOH" Seorang pemulung yang lewat membuatku sadar dari lamunan.
    "Assalamualikum Den.." Ku rasa ia mengerti jika ku kaget, karena kulihat ia manggut-manggut terlalu menukik dan buru-buru berlalu.
   "Waalaikum salam.." Ku pasang senyum setulus mungkin biar ia nggak grogi gitu.

   Ku hanya terdiam menyaksikan pemulung itu berlalu, ku rasa hanya dia tamu yang paling ku kenal dari kalangan manusia dan ia selalu menyapaku di tiap pagi. Kami akrab tapi tidak saling mengenal, sungguh sayang memang.
   Aku lebih malu lagi saat bertemu dengannya, kurasa penampilanku lebih necis tapi dia yang lebih bisa nyari duit dibanding aku. Rasanya jadi percuma mengenyam pendidikan hingga S3 (SD-SLTP-SLTA), tapi masalah dengan perutku sendiri masih mengandalkan ibuku yang tinggal beliau sendiri orang tuaku.
   Ku perhatikan lagi tamu pagiku yang paling membuatku malu. Meski lusuh tapi pakaiannya selalu bersih, hanya celananya saja yang terkena debu-debu jalanan di bagian bawah. Kaos oblong yang memudar warna birunya, menjadi bukti betapa rentanya umur pakaian yang ia kenakan.
   Entah mengapa ia selalu membawa dua kantong kresek hitam, satu kresek ukuran super besar dan kresek kecil yang satunya lagi. Ia memasukan sampah-sampah yang berharga ke kresek yang super besar, sedang di kantong kresek yang kecil entah apa isinya.
   Ku mendekatinya memberanikan diri untuk berkenalan, biar saja orang berkata apa. Sayang kami ketemu tiap pagi tapi nama saja tidak tahu.

   ".. Bang, " Ku duluan menyapa seraya mendekat dan ku pasang senyum semanis mungkin.
   "Eh Aden ?, apa ada botol plastik untuk saya bawa ?" Ia menyambut dengan sedikit kaget melihatku.
   "Eh anu, saya cuma mau kenalan aja. Sayang, tiap pagi kita ketemu tapi nggak kenal-mengenal"
   "Oh.." Ia heran.
   "Lucu 'kan ? hehe.." Aku coba agar kami tidak terlalu canggung.
   "Iya ya.., kalo gitu perkenalkan saya Kusno dari Solo. Kalo Ad.."
   "Saya Abdi, Asli dari Pasundan. Bukan dari kalangan ningrat" Ku kaget, ternyata ia orang Solo toh? padahal kelihatan dari sebrang sana (pulau Sumatra gitu).
   "Uf, maaf" Akhirnya ia tersenyum begitu manisnya.
*   *   *   *

   Sungguh tidak terasa waktu terus bergulir. Sinar mentari yang hangat yang mesra di waktu pagi, sekarang menjadi agak garang membuat udara menjadi memanas. Untuk itulah (mungkin) sehangat apapun sinar mentari di waktu pagi, saya nggak naksir tuh ! (he he..). Tapi meski demikian, saya sungguh seneng dengan mentari yang terus bergerak. Dengan kata lain, meski sinar mentari pagi begitu nyaman di kulit tetep aja ngeri kalo terus diem disitu.
   Tapi anehnya ku nggak merasa begitu ngeri dari tadi terus duduk disini, sejak perkenalan yang singkat tadi dengan Mas kusno jadi serasa terus menyejukan hingga siang ini. Sungguh katanya begitu mengesankan, begitu jelas terekam dan, .. (bengong lagi..).
...
   "Di, yang pasti kita 'ni hidup di dunia yang bukan ciptaan kita sendiri (mimpi kale !), tapi jelas kita hidup di dunia ciptaan-Nya. Jadi kita harus selalu hidup mengikut hukum-hukum-Nya agar selamat, bener kan ?"
   "Bener juga Mas.." Rasa-rasanya ku jadi kejatuhan inspirasi.
  "Dengan kata lain, kalo kita mengada-ngada sendiri dengan berpaling dari-Nya pastilah kita akan celaka, karena hanya Dia saja yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi ciptaan-Nya !" Mas Kusno membelakak berapi-api membuatku kaget.
   "Sebagus apapun dasar hukum, aturan, ataupun pandangan hidup yang diadakan manusia dan bertentangan dengan aturan-Nya ?!, tunggu saja kehancuran yang kita dapatkan !" Mata Mas Kusno sekarang makin mengkilat, trings..!.
   "... " Ku hanya bisa bungkam tiada kata.
   "Kamu nggak ingin kan hidup kita hancur ?" Matanya masih tajam menatapku.
   "... " Ku hanya menggelengkan kepala.
   "Nggak perlu jauh-jauh Di" Mas Kusno hendak memperjelas lagi.
   "Perutmu saja jika lapar mesti makan, sehari tiga kali amannya.."
   "Betul.." Ku mengangguk.
   "Itu kan yang digariskan Alloh SWT, Yang Mencipta Kita. Nggak bisa kita pengen kaya buaya yang sekali makan bisa tahan hingga sebulan bahkan lebih, jika Ia tidak Berkehendak" Sekarang nada suaranya mulai merendah.
   "Iya Mas, aku jadi lebih terdesak lagi. Bahwa aku harus bisa nyari duit buat kebutuhan sehari-hari" Ku mengeluh.
   "Ya hayo kerja, kamu 'kan masih muda. Lulusan sekolah kejuruan lagi" mas Kusno enteng saja berkata.

   "Iya itu masih harus nunggu lamaranku diterima sebuah perusahaan-perusahaan yang tempo hari pernah ku lamar, sedang aku kan harus makan tiap hari..?"Aku sedikit kesal, merasakan Mas Kusno enteng saja menanggapi keluhanku.
   "Itulah Di' panjang ceritanya jika ku harus menceritakan bagaimana awalnya ku memilih profesi ini, mungkin saja kamu heran mengapa saya pun hingga bekerja seperti ini" Ia mengacungkan kedua kantong kereseknya padaku.
   "Kalo mau ikut beginian aja Di, kalo emang masih bingung.." Ia hanya tersenyum melihatku merenggut.
   "... Yah ini mungkin yang bisa kuperbuat sekarang-sekarang" Tak sadar ku mengangguk-ngangguk menerima usulannya.
*   *   *   *

   "SubhanaLLOH..." Spontan saja mulutku memuji-Nya.

   Hatiku terasa riang, ternyata mandi di waktu pagi sungguh menyegarkan. Meski lututku jadi sibuk bergetar karena kedinginan, tapi ini sungguh jadi suatu gerakan perubahan yang menggebirakanku dan ibuku.
   Meski awalnya heran melihatku sudah bersih dipagi buta, tapi beliau segera menyambutku dengan sepiring nasi goreng panas dan senyuman hangatnya. Duh, hanya aku deh yang ngerti !, senyuman ibunda seakan martabak manis yang melengkung hampir seperti huruf  'U' saat tersenyum.
   Yah hari ini sungguh terasa lebih cerah, mudah-mudahan begitu pula yang dirasakan ibunda.

   "Tumben pagi gini udah mandi Di, mau kemana ?" Meski tersenyum, tetap saja beliau heran.
   "Hari ini aku mau nyoba kerja Mak" Aku sunggingkan senyuman untuk mengatasi keheranannya.
   "Kerja ..? Kerja apa ?" Ibuku masih berusaha mengatasi keheranannya.
   "Ada deh..hehe" Ku hanya bisa nyengir, sekarang sulit jika ku jelaskan.
   "AlhamduliLLah" Ku habiskan dengan cepat nasi goreng kesukaan ku ini.

   Belum lama aku pamer senyuman ke ibu, Mas Kusno pun datang dan segera aku pun pamitan. Tidak lupa ku bawa karung bekas dan keresek hitam untuk sarung yang sengaja ku sembunyikan sejak semalam di bawah kursi tamu, kontan saja sekarang senyuman manis ibuku semuanya tersita kaget.

   "Kamu mau kerja apa ?" Ibuku masih dengan kagetnya.
   "Ada deh Mak, entar juga kalo ngerti Emak pasti akan tersenyum lebih lucu lagi" Ku hanya bisa terus nyengir sambil segera ku raih tangan rentanya untuk kuciumi dan segera pergi.
   "Lho.." Katanya segera terpotong.
   "Assalamualaikum.." Segera ku percepat.
   "Hati-hati Di, waalaikum salam .."Ibu masih saja bengong melepas kepergiannku, dan aku segera berbalik, tidak kuasa rasanya lihat wajahnya jika seperti itu.

    Kulihat wajah Mas Kusno pun hanya tersenyum saja, melihatku dan Bunda dihari pertamaku berangkat untuk mengais rezki.
   Akhirnya tiba saatnya ku mulai bekerja, mudah-mudahan ini semua mengubah paradigma berfikirku menjadi lebih lurus. Meski gerak perubahan pertamaku ini, harus dimulai dengan berjalan berkeliling mencari sesuatu yang menurut kebanyakan orang adalah sampah.
   *   *    *   *

   "Bener juga ya Mas, profesi sebagai pemulung itu tidak sengeri yang sering terlintas dalam pikiranku, air muka ini tidak harus keruh hanya karena gengsi oleh pandangan orang lain" Ku buka wacana yang memang dari tadi ingin ku ungkapkan.
   "Di, kebahagiaan itu letaknya di hati, bukanlah di jasad yang terlihat . Yang penting halal dan berkah, meski enaknya (mungkin) sebesar upah kerjaan presiden kali,hehe.." Mas Kusno tertawa kecil.

   Dihari pertama memang ku jadi sering berdiskusi, hingga tidak terasa jam kerjaku sampai hingga ke penghujungnya seperti yang lain.
   Berdiskusi dengannya hanya dapat membuatku lebih banyak terdiam, kusadari bahwa ia seorang yang mendalam ilmunya, luas wawasannya, dan jelas pendiriannya.
   Meski secara ijazah pendidikan yang S3-ku lebih tinggi darinya, tetaplah amal yang membuktikan. Seberapa ampuh ilmu yang dimiliki dapat membuat kita berbuat sebagai mana manusia, dengan kata lain dapat menyelesaikan setiap masalah yang memang sudah menjadi ketetapan-Nya bagi manusia yang hidup di alam fana ini.
   Apalagi saat kami bersama pun, ia lebih mendahulukan penghasilanku dari pada dirinya sendiri, "Biar lebih semangat" katanya.
   Maka kuputuskan untuk membagi hasil pendapatanku dari sampah ini, itung-itung ini iuran trainingku. Karena seharian ini kami memang selalu bersama, saat istirahat, shalat, makan pun aku ditraktir dia. Pokoknya semuanya hampir selalu bersama, tapi ada pula yang sendiri-sendirinya (contohnya saat buang air gitu!).
 *   *   *   *

   Hari demi hari terus berlalu dengan cepatnya, dan sekarang bisa dibilang aku sudah resmi jadi pemulung yang mandiri dengan mendapatkan kelebihan tersendiri dibidang ini (tentu saja memulainya nggak perlu biaya surat keterangan kelakuan baik dari kepolisian, biaya surat keterangan sehat dari Puskesmas, dan tidak perlu biaya membuat kartu kuning ke Disnaker, dan laen-laen).
   Lucunya jika kuingat saat pertama kali ku pulang ke rumah dari pekerjaanku ini, ku harus cuek melihat ibuku yang mengernyitkan hidungnya karena bau badan dan pakaianku yang khas pemulung. Tapi setidaknya aku sudah bertanggung jawab meski sebatas perutku sendiri.
   Sekarang, hampir genap dua pekan masa remajaku terisi oleh riak riangnya memunguti sampah-sampah berharga dengan Mas Kusno. Hitam dan putihnya, ataupun harum dan baunya ku saat mengumpulkan sampah telah jelas ku ingat.
   Dan satu hal penting yang ku mesti syukuri adalah, ku menyadari akan kecemburuanku akan kehidupan mewah yang kulihat di film-film itu tidak seharusnya terjadi. Karena masih banyaknya kehidupan diluar yang jauh lebih dari sederhana, tapi hidup mereka bebas dan tenang karena keberkahan harta yang didapat menyehatkan hingga ke jiwa-jiwa mereka.
   Bagi kami bukan masalah yang menyedihkan oleh semua luka di kaki karena seringnya mengingjak pecahan kaca dan duri yang tersembunyi di tumpukan sampah, ataupun duri-duri hati yang kerap disebarkan oleh ejekan-ejekan  manusia yang hanya bisa mengejek. Karena kami meyakini bahwa yang memberi kami makan hanyalah ALLAH saja, bukan mereka. Dan Dia memberikan kemurahan-Nya dengan limpahan karunia dan nikmat-Nya
   Begitu pula dengan bau sampah ataupun bau muntahku sendiri yang kerap keluar saat menghadapi sempalan-sempalan kaum matrelialis, semua itu hanya akan mengharum ke hati selama kami sepenuhnya mengikuti segala hukum-hukum-Nya.
   Untuk apa baju dan jasad yang harum dari seorang penipu yang semuanya hanya menutupi jiwa yang busuk, karena kelak diakhirnya akan dibalas oleh-Nya Yang Maha Pembalas Tipu-daya.

Ku jadi teringat kata-kata Mas Kusno tempo hari...

   "Tidak mengapa Di kita kerja di bak sampah, yang penting kita bukanlah sampah masyarakat dunia apalagi sampah masyarakat akhirat. Jelas kan gimana nasib sampah masyarakat diakhirat.. ? Jelaslah dibakar di neraka ! Apalagi ?".
 *   *   *   *

   "Prang !!" Akhirnya tiba juga ku menyenangi saat-saat penghancuran celengan kendiku. Ku bersihkan pecahan kendinya dan kuhitung hasil tabungannku yang lebih dari dua pekan.
   "Wow AlhamduliLLAH !" Ku berlari dengan senyum-senang dan syukur, segera menghampiri ibunda di dapur.
   "Mak nih duit buat masak"  Ku raih tangan rentanya untuk menerima.
   "Lho Di, dari mana uang sebanyak ini ?" Ku lihat ternyata ibuku jadi bengong.
   "Dari Gusti Allah dong " Ku masih sulit menutup bibirku yang tengah tersenyum.
   "Maksudnya ini uang dicelengan ?" Beliau menegaskan.
   "Iya bu, itu tabungan yang ku sisihkan selama bekerja hingga dua pekan terakhir" ku mengangguk-ngangguk.
   "Kamu sungguh senang kerja kayak gitu ?" Kulihat ada sebentuk kesedihan bercampur haru di wajahnya.
    "Memangnya..?" Sekarang senyumku baru tertutup.
   "Kamu kan bisa nyari kerja yang lebih baik dengan ijazah dari sekolah kejuruan"  Sekarang wajah hampir menangis.
    "Kan belum pasti kesempatannya tiba, ini sambilan aja kok" Ku jadi tidak menentu.
   "Ntar gimana kata orang, kok ibu biarin anaknya kerja hingga begitu"
   "Memangnya mereka yang memberi makan kita ?" Aku sedikit geli demi melihat ibuku manyun merenggut.
   "Ya tidak" Ibu berkata lirih makin manyun.
   "Kalo gitu, mending kita dengerin kata yang ngasih makan kita kan ?"
   "Memangnya siapa ?" Sekarang wajah ibuku mulai berubah ke arah penasaran.
   "Nah lho, coba siapa. Makannya udah kok nggak tahu siapa yang ngasih..hehehe" Aku hanya tersenyum saja menyaksikan ekspresi wajah ibuku.

   "Majikan kita..?"Mata ibu membelakak memastikan tebakannya.
   "Mereka kan hanya pelantara.." Kataku enteng
   "AstagfiruLLAH, maksudnya ALLAH kan ?" Sekarang mata ibunda makin lebar, kaget.

   "Tuh inget, jika ALLOH yang ngasih makan, ya terserah Dia dong mau ngasih dengan cara apa. Nggak masalah kan jika sementara kita dikasih oleh-Nya dengan kehendak-Nya kita harus nuker sampah ke pemasok ?"
   "Iya ya ?" Sekarang wajah ibu berubah lagi kearah seperti orang yang baru menemukan sesuatu.

   "Ya iya lah, mak bahkan katanya ini kerjaannya Sang Kholifah bumi lho !"
   "Kok gitu..?" Wajah lembutnya kembali lagi keheranan.

   "Ya sama.., sama-sama memproses yang buruk jadi yang baik, iya kan ?"
   "Ah kamu ini bisa aja buat alasan.." Ibuku baru mulai tersenyum.
   "Jadi sekarang nggak masalah dong..?" Aku semakin bersemangat.

   "AlhamduliLLAH, kamu sekarang nambah dewasa" Mukanya yang cerah nampak senang sambil mengacak-ngacak rambutku.
   "Ya dong ehehehe.." Mukaku memerah karena hidung mulai melayang keatas.

   "Iya dong terus, kalo gitu mending kamu simpan aja uang ini. Mungkin kamu nanti perlu modal dan nyobain dagang kayak Emak, wirausaha gitu..?" Wajah ibuku hanya berseri seri memandangku jenaka.
   "Hmm, oke juga tuh. Eh kalo bisnis rongsok disini kayaknya prospek deh, halaman teras kita lumayan luas kan" Seketika inspirasi bisnis berikutnya muncul.
   "Eh tapi.." Ibu hendak menyanggah, tapi katanya langsung terpotong

-- "ALLOHuakbar.. ALLOH..huakbar"-- Tiba-tiba terdengar suara adzan.

    "Wah bu, Abdi harus ke mesjid neh" Mending ku langsung ngacir ke mesjid sebelum omelannya berlanjut.
   "Tunggu kalo rongsok.." Lagi-lagi kata-katanya harus terpotong.
   "Assalamualaikum," Segera ku ciumi tangannya dan langsung ngacir.

   Ibunda hanya bengong dengan uang recehan ditangan hingga telat menjawab salam pamit,tapi masih dapat ku dengar omelannya sambil ku menjauh..

   "Waalaikum salam, heran seneng bener ngurusin sampah.." Sayup sayup ibu berkata makin lirih yang kudengar seiring kami menjauh.
*   *   *   *

Penulis: janmenulis@gmail.com
Selesai, 29 Mei 2009
 03:39 Dini hari
Di Cimahi-Bandung.