Laman

Senin, 07 Maret 2016

Pekerjaan Sang Khalifah

Pekerjaan Sang Khalifah


   Mentari nampak begitu menawannya, jika ku ukur dengan kasat mata baru sepenggalan tombak ia terbang.
   Seperti biasanya, saat pagi hari ku hanya duduk-duduk bersama kertas dan pena (seringnya hanya bengong). Ingin sekali rasanya ku melakukan sesuatu yang berguna, terlebih untuk perutku sendiri yang kian hari kian memaksa.

  " Tapi apa yang ku dapat ?, jika hanya ada ide-ide mentah saja yang melayang-layang dikepala? apa yang bisa ku makan ?" Hatiku membatin.

   Hatiku bertambah kerdil saja, saat melihat gerombolan semut dihalaman depan yang begitu bersemangat mengangkut bahan-bahan makanan ke dalam sarang. Lalu ku lihat pula sepasang kumbang yang dengan lembutnya menghisap madu bunga yang segar khas pagi, mereka begitu bersemangat menyambut pagi yang mulai menghangat oleh sinar mentari. Bahkan burung pun giat mencari makan dengan diiringi nyanyian-nyanyian indah yang menutupi anggapan yang melihat bahwa mereka sedang mencari makan, dan aku ?.
   Yah semua yang kudengar dari tamu-tamuku dipagi hari, membuatku semakin malu dan malu. Padahal kita 'kan mahluk yang paling sempurna dibandingkan mereka semua ?, malah ada yang bilang manusia itu wakil kepeminpinan (khalifah) di Bumi Sang Pencipta. Coba mereka bisa ngomong.., kan bisa diskusi atau ngasih masukan mungkin ?.. (Ah ada-ada aja neh ku mikir !).
   Tiba-tiba..,

   "AstagfiruLLOH" Seorang pemulung yang lewat membuatku sadar dari lamunan.
    "Assalamualikum Den.." Ku rasa ia mengerti jika ku kaget, karena kulihat ia manggut-manggut terlalu menukik dan buru-buru berlalu.
   "Waalaikum salam.." Ku pasang senyum setulus mungkin biar ia nggak grogi gitu.

   Ku hanya terdiam menyaksikan pemulung itu berlalu, ku rasa hanya dia tamu yang paling ku kenal dari kalangan manusia dan ia selalu menyapaku di tiap pagi. Kami akrab tapi tidak saling mengenal, sungguh sayang memang.
   Aku lebih malu lagi saat bertemu dengannya, kurasa penampilanku lebih necis tapi dia yang lebih bisa nyari duit dibanding aku. Rasanya jadi percuma mengenyam pendidikan hingga S3 (SD-SLTP-SLTA), tapi masalah dengan perutku sendiri masih mengandalkan ibuku yang tinggal beliau sendiri orang tuaku.
   Ku perhatikan lagi tamu pagiku yang paling membuatku malu. Meski lusuh tapi pakaiannya selalu bersih, hanya celananya saja yang terkena debu-debu jalanan di bagian bawah. Kaos oblong yang memudar warna birunya, menjadi bukti betapa rentanya umur pakaian yang ia kenakan.
   Entah mengapa ia selalu membawa dua kantong kresek hitam, satu kresek ukuran super besar dan kresek kecil yang satunya lagi. Ia memasukan sampah-sampah yang berharga ke kresek yang super besar, sedang di kantong kresek yang kecil entah apa isinya.
   Ku mendekatinya memberanikan diri untuk berkenalan, biar saja orang berkata apa. Sayang kami ketemu tiap pagi tapi nama saja tidak tahu.

   ".. Bang, " Ku duluan menyapa seraya mendekat dan ku pasang senyum semanis mungkin.
   "Eh Aden ?, apa ada botol plastik untuk saya bawa ?" Ia menyambut dengan sedikit kaget melihatku.
   "Eh anu, saya cuma mau kenalan aja. Sayang, tiap pagi kita ketemu tapi nggak kenal-mengenal"
   "Oh.." Ia heran.
   "Lucu 'kan ? hehe.." Aku coba agar kami tidak terlalu canggung.
   "Iya ya.., kalo gitu perkenalkan saya Kusno dari Solo. Kalo Ad.."
   "Saya Abdi, Asli dari Pasundan. Bukan dari kalangan ningrat" Ku kaget, ternyata ia orang Solo toh? padahal kelihatan dari sebrang sana (pulau Sumatra gitu).
   "Uf, maaf" Akhirnya ia tersenyum begitu manisnya.
*   *   *   *

   Sungguh tidak terasa waktu terus bergulir. Sinar mentari yang hangat yang mesra di waktu pagi, sekarang menjadi agak garang membuat udara menjadi memanas. Untuk itulah (mungkin) sehangat apapun sinar mentari di waktu pagi, saya nggak naksir tuh ! (he he..). Tapi meski demikian, saya sungguh seneng dengan mentari yang terus bergerak. Dengan kata lain, meski sinar mentari pagi begitu nyaman di kulit tetep aja ngeri kalo terus diem disitu.
   Tapi anehnya ku nggak merasa begitu ngeri dari tadi terus duduk disini, sejak perkenalan yang singkat tadi dengan Mas kusno jadi serasa terus menyejukan hingga siang ini. Sungguh katanya begitu mengesankan, begitu jelas terekam dan, .. (bengong lagi..).
...
   "Di, yang pasti kita 'ni hidup di dunia yang bukan ciptaan kita sendiri (mimpi kale !), tapi jelas kita hidup di dunia ciptaan-Nya. Jadi kita harus selalu hidup mengikut hukum-hukum-Nya agar selamat, bener kan ?"
   "Bener juga Mas.." Rasa-rasanya ku jadi kejatuhan inspirasi.
  "Dengan kata lain, kalo kita mengada-ngada sendiri dengan berpaling dari-Nya pastilah kita akan celaka, karena hanya Dia saja yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi ciptaan-Nya !" Mas Kusno membelakak berapi-api membuatku kaget.
   "Sebagus apapun dasar hukum, aturan, ataupun pandangan hidup yang diadakan manusia dan bertentangan dengan aturan-Nya ?!, tunggu saja kehancuran yang kita dapatkan !" Mata Mas Kusno sekarang makin mengkilat, trings..!.
   "... " Ku hanya bisa bungkam tiada kata.
   "Kamu nggak ingin kan hidup kita hancur ?" Matanya masih tajam menatapku.
   "... " Ku hanya menggelengkan kepala.
   "Nggak perlu jauh-jauh Di" Mas Kusno hendak memperjelas lagi.
   "Perutmu saja jika lapar mesti makan, sehari tiga kali amannya.."
   "Betul.." Ku mengangguk.
   "Itu kan yang digariskan Alloh SWT, Yang Mencipta Kita. Nggak bisa kita pengen kaya buaya yang sekali makan bisa tahan hingga sebulan bahkan lebih, jika Ia tidak Berkehendak" Sekarang nada suaranya mulai merendah.
   "Iya Mas, aku jadi lebih terdesak lagi. Bahwa aku harus bisa nyari duit buat kebutuhan sehari-hari" Ku mengeluh.
   "Ya hayo kerja, kamu 'kan masih muda. Lulusan sekolah kejuruan lagi" mas Kusno enteng saja berkata.

   "Iya itu masih harus nunggu lamaranku diterima sebuah perusahaan-perusahaan yang tempo hari pernah ku lamar, sedang aku kan harus makan tiap hari..?"Aku sedikit kesal, merasakan Mas Kusno enteng saja menanggapi keluhanku.
   "Itulah Di' panjang ceritanya jika ku harus menceritakan bagaimana awalnya ku memilih profesi ini, mungkin saja kamu heran mengapa saya pun hingga bekerja seperti ini" Ia mengacungkan kedua kantong kereseknya padaku.
   "Kalo mau ikut beginian aja Di, kalo emang masih bingung.." Ia hanya tersenyum melihatku merenggut.
   "... Yah ini mungkin yang bisa kuperbuat sekarang-sekarang" Tak sadar ku mengangguk-ngangguk menerima usulannya.
*   *   *   *

   "SubhanaLLOH..." Spontan saja mulutku memuji-Nya.

   Hatiku terasa riang, ternyata mandi di waktu pagi sungguh menyegarkan. Meski lututku jadi sibuk bergetar karena kedinginan, tapi ini sungguh jadi suatu gerakan perubahan yang menggebirakanku dan ibuku.
   Meski awalnya heran melihatku sudah bersih dipagi buta, tapi beliau segera menyambutku dengan sepiring nasi goreng panas dan senyuman hangatnya. Duh, hanya aku deh yang ngerti !, senyuman ibunda seakan martabak manis yang melengkung hampir seperti huruf  'U' saat tersenyum.
   Yah hari ini sungguh terasa lebih cerah, mudah-mudahan begitu pula yang dirasakan ibunda.

   "Tumben pagi gini udah mandi Di, mau kemana ?" Meski tersenyum, tetap saja beliau heran.
   "Hari ini aku mau nyoba kerja Mak" Aku sunggingkan senyuman untuk mengatasi keheranannya.
   "Kerja ..? Kerja apa ?" Ibuku masih berusaha mengatasi keheranannya.
   "Ada deh..hehe" Ku hanya bisa nyengir, sekarang sulit jika ku jelaskan.
   "AlhamduliLLah" Ku habiskan dengan cepat nasi goreng kesukaan ku ini.

   Belum lama aku pamer senyuman ke ibu, Mas Kusno pun datang dan segera aku pun pamitan. Tidak lupa ku bawa karung bekas dan keresek hitam untuk sarung yang sengaja ku sembunyikan sejak semalam di bawah kursi tamu, kontan saja sekarang senyuman manis ibuku semuanya tersita kaget.

   "Kamu mau kerja apa ?" Ibuku masih dengan kagetnya.
   "Ada deh Mak, entar juga kalo ngerti Emak pasti akan tersenyum lebih lucu lagi" Ku hanya bisa terus nyengir sambil segera ku raih tangan rentanya untuk kuciumi dan segera pergi.
   "Lho.." Katanya segera terpotong.
   "Assalamualaikum.." Segera ku percepat.
   "Hati-hati Di, waalaikum salam .."Ibu masih saja bengong melepas kepergiannku, dan aku segera berbalik, tidak kuasa rasanya lihat wajahnya jika seperti itu.

    Kulihat wajah Mas Kusno pun hanya tersenyum saja, melihatku dan Bunda dihari pertamaku berangkat untuk mengais rezki.
   Akhirnya tiba saatnya ku mulai bekerja, mudah-mudahan ini semua mengubah paradigma berfikirku menjadi lebih lurus. Meski gerak perubahan pertamaku ini, harus dimulai dengan berjalan berkeliling mencari sesuatu yang menurut kebanyakan orang adalah sampah.
   *   *    *   *

   "Bener juga ya Mas, profesi sebagai pemulung itu tidak sengeri yang sering terlintas dalam pikiranku, air muka ini tidak harus keruh hanya karena gengsi oleh pandangan orang lain" Ku buka wacana yang memang dari tadi ingin ku ungkapkan.
   "Di, kebahagiaan itu letaknya di hati, bukanlah di jasad yang terlihat . Yang penting halal dan berkah, meski enaknya (mungkin) sebesar upah kerjaan presiden kali,hehe.." Mas Kusno tertawa kecil.

   Dihari pertama memang ku jadi sering berdiskusi, hingga tidak terasa jam kerjaku sampai hingga ke penghujungnya seperti yang lain.
   Berdiskusi dengannya hanya dapat membuatku lebih banyak terdiam, kusadari bahwa ia seorang yang mendalam ilmunya, luas wawasannya, dan jelas pendiriannya.
   Meski secara ijazah pendidikan yang S3-ku lebih tinggi darinya, tetaplah amal yang membuktikan. Seberapa ampuh ilmu yang dimiliki dapat membuat kita berbuat sebagai mana manusia, dengan kata lain dapat menyelesaikan setiap masalah yang memang sudah menjadi ketetapan-Nya bagi manusia yang hidup di alam fana ini.
   Apalagi saat kami bersama pun, ia lebih mendahulukan penghasilanku dari pada dirinya sendiri, "Biar lebih semangat" katanya.
   Maka kuputuskan untuk membagi hasil pendapatanku dari sampah ini, itung-itung ini iuran trainingku. Karena seharian ini kami memang selalu bersama, saat istirahat, shalat, makan pun aku ditraktir dia. Pokoknya semuanya hampir selalu bersama, tapi ada pula yang sendiri-sendirinya (contohnya saat buang air gitu!).
 *   *   *   *

   Hari demi hari terus berlalu dengan cepatnya, dan sekarang bisa dibilang aku sudah resmi jadi pemulung yang mandiri dengan mendapatkan kelebihan tersendiri dibidang ini (tentu saja memulainya nggak perlu biaya surat keterangan kelakuan baik dari kepolisian, biaya surat keterangan sehat dari Puskesmas, dan tidak perlu biaya membuat kartu kuning ke Disnaker, dan laen-laen).
   Lucunya jika kuingat saat pertama kali ku pulang ke rumah dari pekerjaanku ini, ku harus cuek melihat ibuku yang mengernyitkan hidungnya karena bau badan dan pakaianku yang khas pemulung. Tapi setidaknya aku sudah bertanggung jawab meski sebatas perutku sendiri.
   Sekarang, hampir genap dua pekan masa remajaku terisi oleh riak riangnya memunguti sampah-sampah berharga dengan Mas Kusno. Hitam dan putihnya, ataupun harum dan baunya ku saat mengumpulkan sampah telah jelas ku ingat.
   Dan satu hal penting yang ku mesti syukuri adalah, ku menyadari akan kecemburuanku akan kehidupan mewah yang kulihat di film-film itu tidak seharusnya terjadi. Karena masih banyaknya kehidupan diluar yang jauh lebih dari sederhana, tapi hidup mereka bebas dan tenang karena keberkahan harta yang didapat menyehatkan hingga ke jiwa-jiwa mereka.
   Bagi kami bukan masalah yang menyedihkan oleh semua luka di kaki karena seringnya mengingjak pecahan kaca dan duri yang tersembunyi di tumpukan sampah, ataupun duri-duri hati yang kerap disebarkan oleh ejekan-ejekan  manusia yang hanya bisa mengejek. Karena kami meyakini bahwa yang memberi kami makan hanyalah ALLAH saja, bukan mereka. Dan Dia memberikan kemurahan-Nya dengan limpahan karunia dan nikmat-Nya
   Begitu pula dengan bau sampah ataupun bau muntahku sendiri yang kerap keluar saat menghadapi sempalan-sempalan kaum matrelialis, semua itu hanya akan mengharum ke hati selama kami sepenuhnya mengikuti segala hukum-hukum-Nya.
   Untuk apa baju dan jasad yang harum dari seorang penipu yang semuanya hanya menutupi jiwa yang busuk, karena kelak diakhirnya akan dibalas oleh-Nya Yang Maha Pembalas Tipu-daya.

Ku jadi teringat kata-kata Mas Kusno tempo hari...

   "Tidak mengapa Di kita kerja di bak sampah, yang penting kita bukanlah sampah masyarakat dunia apalagi sampah masyarakat akhirat. Jelas kan gimana nasib sampah masyarakat diakhirat.. ? Jelaslah dibakar di neraka ! Apalagi ?".
 *   *   *   *

   "Prang !!" Akhirnya tiba juga ku menyenangi saat-saat penghancuran celengan kendiku. Ku bersihkan pecahan kendinya dan kuhitung hasil tabungannku yang lebih dari dua pekan.
   "Wow AlhamduliLLAH !" Ku berlari dengan senyum-senang dan syukur, segera menghampiri ibunda di dapur.
   "Mak nih duit buat masak"  Ku raih tangan rentanya untuk menerima.
   "Lho Di, dari mana uang sebanyak ini ?" Ku lihat ternyata ibuku jadi bengong.
   "Dari Gusti Allah dong " Ku masih sulit menutup bibirku yang tengah tersenyum.
   "Maksudnya ini uang dicelengan ?" Beliau menegaskan.
   "Iya bu, itu tabungan yang ku sisihkan selama bekerja hingga dua pekan terakhir" ku mengangguk-ngangguk.
   "Kamu sungguh senang kerja kayak gitu ?" Kulihat ada sebentuk kesedihan bercampur haru di wajahnya.
    "Memangnya..?" Sekarang senyumku baru tertutup.
   "Kamu kan bisa nyari kerja yang lebih baik dengan ijazah dari sekolah kejuruan"  Sekarang wajah hampir menangis.
    "Kan belum pasti kesempatannya tiba, ini sambilan aja kok" Ku jadi tidak menentu.
   "Ntar gimana kata orang, kok ibu biarin anaknya kerja hingga begitu"
   "Memangnya mereka yang memberi makan kita ?" Aku sedikit geli demi melihat ibuku manyun merenggut.
   "Ya tidak" Ibu berkata lirih makin manyun.
   "Kalo gitu, mending kita dengerin kata yang ngasih makan kita kan ?"
   "Memangnya siapa ?" Sekarang wajah ibuku mulai berubah ke arah penasaran.
   "Nah lho, coba siapa. Makannya udah kok nggak tahu siapa yang ngasih..hehehe" Aku hanya tersenyum saja menyaksikan ekspresi wajah ibuku.

   "Majikan kita..?"Mata ibu membelakak memastikan tebakannya.
   "Mereka kan hanya pelantara.." Kataku enteng
   "AstagfiruLLAH, maksudnya ALLAH kan ?" Sekarang mata ibunda makin lebar, kaget.

   "Tuh inget, jika ALLOH yang ngasih makan, ya terserah Dia dong mau ngasih dengan cara apa. Nggak masalah kan jika sementara kita dikasih oleh-Nya dengan kehendak-Nya kita harus nuker sampah ke pemasok ?"
   "Iya ya ?" Sekarang wajah ibu berubah lagi kearah seperti orang yang baru menemukan sesuatu.

   "Ya iya lah, mak bahkan katanya ini kerjaannya Sang Kholifah bumi lho !"
   "Kok gitu..?" Wajah lembutnya kembali lagi keheranan.

   "Ya sama.., sama-sama memproses yang buruk jadi yang baik, iya kan ?"
   "Ah kamu ini bisa aja buat alasan.." Ibuku baru mulai tersenyum.
   "Jadi sekarang nggak masalah dong..?" Aku semakin bersemangat.

   "AlhamduliLLAH, kamu sekarang nambah dewasa" Mukanya yang cerah nampak senang sambil mengacak-ngacak rambutku.
   "Ya dong ehehehe.." Mukaku memerah karena hidung mulai melayang keatas.

   "Iya dong terus, kalo gitu mending kamu simpan aja uang ini. Mungkin kamu nanti perlu modal dan nyobain dagang kayak Emak, wirausaha gitu..?" Wajah ibuku hanya berseri seri memandangku jenaka.
   "Hmm, oke juga tuh. Eh kalo bisnis rongsok disini kayaknya prospek deh, halaman teras kita lumayan luas kan" Seketika inspirasi bisnis berikutnya muncul.
   "Eh tapi.." Ibu hendak menyanggah, tapi katanya langsung terpotong

-- "ALLOHuakbar.. ALLOH..huakbar"-- Tiba-tiba terdengar suara adzan.

    "Wah bu, Abdi harus ke mesjid neh" Mending ku langsung ngacir ke mesjid sebelum omelannya berlanjut.
   "Tunggu kalo rongsok.." Lagi-lagi kata-katanya harus terpotong.
   "Assalamualaikum," Segera ku ciumi tangannya dan langsung ngacir.

   Ibunda hanya bengong dengan uang recehan ditangan hingga telat menjawab salam pamit,tapi masih dapat ku dengar omelannya sambil ku menjauh..

   "Waalaikum salam, heran seneng bener ngurusin sampah.." Sayup sayup ibu berkata makin lirih yang kudengar seiring kami menjauh.
*   *   *   *

Penulis: janmenulis@gmail.com
Selesai, 29 Mei 2009
 03:39 Dini hari
Di Cimahi-Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar